JEMBRANAEXPRES - Made Estra, warga Desa Gobleg, Buleleng, Bali, untung besar. Dengan bertani alpukat, dia bisa menghasilkan uang Rp30 juta per pohon.
Berawal dari kecintaannya pada buah asal Meksiko itu, Made Estra telah mengubahnya menjadi sebuah bisnis yang menguntungkan.
Dia mulai bertani sejak 1998. Namun, memasuki tahun 2015, keberaniannya beralih profesi dari petani biasa menjadi petani alpukat membuahkan hasil gemilang.
Mulanya, Made Estra memulai perjuangannya dengan entres atau batang atas yang dia peroleh dari seorang rekan petani.
Namun, dengan ketekunan dan dedikasi yang tinggi, ia berhasil melakukan pengembangan secara berkelanjutan.
Hasilnya, kebun alpukatnya menjadi terkenal dengan varietas unggulan yang memiliki kualitas ekspor.
Salah satu varietas yang paling diminati oleh masyarakat adalah alpukat mentega. Dari sepuluh jenis alpukat yang ia budidayakan di lahan seluas 1,5 hektare, alpukat mentega menjadi primadona di pasaran.
Kelebihannya adalah buah yang lebih lebat dan panen terjadi saat musim langka, membuatnya menjadi pilihan utama di pasaran karena minimnya persaingan.
Meskipun demikian, perjalanan bisnis Estra tidaklah tanpa rintangan. Gulma dan serangan ulat menjadi tantangan utama yang harus dihadapinya dalam proses pemeliharaan.
Keterlambatan dalam membersihkan gulma dapat memperlambat pertumbuhan alpukat, sementara serangan ulat dapat merusak tanaman secara keseluruhan.
Namun, berkat kualitas unggul buah alpukat yang dihasilkannya, Estra berhasil menarik perhatian pasar internasional. Buah alpukatnya telah memenuhi standar kualitas ekspor dan memiliki potensi besar untuk menjadi daya tarik bagi pasar luar negeri.
Data dari FAO tahun 2019 menempatkan Indonesia sebagai negara penghasil alpukat terbesar kelima di dunia, dan produsen terbesar di Asia.
Catatan tersebut menegaskan bahwa alpukat bukan hanya menjadi bagian penting dari pasar lokal, tetapi juga memiliki potensi besar untuk ekspor, memperkuat peran Indonesia dalam industri alpukat secara global.
Baru kali ini dia merasakan nikmatnya menjadi petani. Tapi, dari bertani alpukat.
Dia mengaku, kalau musim panen, setiap pohon alpukat menghasilkan buat yang mencapai Rp30 juta. Sedangkan jumlah pohonnya mencapai 80.
Maka, setiap tahun potensinya mencapai Rp2,4 miliar. Ada yang mau mengikuti jejak Made Estra? ***
Editor : Y. Raharyo