Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Perayaan Cap Go Meh: Waktu Pelaksanaan dan Makna Bagi Umat Kong Hu Chu

Dian Suryantini • Senin, 26 Februari 2024 | 14:38 WIB
BUKAN CUMA HIBURAN: Aneka lampion, tarian Barongsai menambah semaraknya perayaan Cap Go Meh di Kelenteng Seng Hong Bio, Singaraja, Bali.
BUKAN CUMA HIBURAN: Aneka lampion, tarian Barongsai menambah semaraknya perayaan Cap Go Meh di Kelenteng Seng Hong Bio, Singaraja, Bali.

SINGARAJA, JEMBRANA EXPRESS-Perayaan Cap Go Meh 2024 di Kelenteng Seng Hong Bio, Singaraja, Bali pada Sabtu (24/2) malam berlangsung semarak.

 

Umat Kong Hu Chu Kabupaten Buleleng tidak hanya merayakan Yuan Xiao Jie dengan semangat tinggi, namun juga berhasil menarik perhatian masyarakat lintas agama.

 

Pertunjukan spektakuler Barongsai memukau penonton dengan gerakan lincah, menari dengan gemulai seolah menggambarkan kekuatan dan keberanian.

 

Penerbangan lampion berwarna-warni menciptakan suasana magis yang memikat hati para penonton.

Di tengah riuh rendahnya kembang api, terdengar doa-doa umat Kong Hu Chu yang memohon berkah dan perlindungan dari Sang Pencipta.

 

Hartono Herlin, seorang rohaniawan, menjelaskan keistimewaan Cap Go Meh.

 

Perayaan yang bertepatan dengan ulang tahun Dewa Penguasa Langit menjadi momen sakral bagi umatnya.

Baca Juga: Pelabuhan Tua Buleleng, Spot Mancing Favorit Warga Kota Singaraja di Waktu Malam

Mereka memasang tulisan-tulisan dan permohonan rezeki di rumah-rumah sebagai ungkapan kepercayaan akan turunnya rezeki dari langit.

 

Berdoa di kelenteng menjadi bagian tak terpisahkan, untuk memohon berkah dan keselamatan bagi diri mereka dan komunitas.

 

“Cap Go Meh tidak hanya menjadi ajang hiburan semata, tapi juga sebagai wujud syukur dan harapan akan kebaikan serta perlindungan dari yang Maha Kuasa,” ujar Hartono.

Lima belas hari setelah merayakan Imlek, umat Tionghoa merayakan Cap Go Meh untuk menghormati Dewa Tertinggi.

 

Usai melakukan persembahyangan di rumah, umat Tionghoa akan datang ke kelenteng untuk melakukan Ci Suak atau ritual tolak bala pada pagi hari hingga siang hari.

 

Ritual ini dilakukan oleh umat yang memiliki shio ciong atau kurang beruntung.

Pada tahun 2024 yang disebut tahun naga, ada 4 shio yang dianggap kurang beruntung atau ciong. Untuk ciong besar ada shio naga dan shio anjing.

 

Sementara untuk ciong kecil ada shio kerbau dan shio kambing.(*)

Editor : Suharnanto Jembrana Express
#Singaraja #kelenteng #cap go meh