JEMBRANA EXPRESS - Kecelakaan maut di kawasan KM 18, Desa Gitgit, Buleleng, Bali, telah meninggalkan bekas luka yang mendalam bagi satu keluarga.
Kadek Sudiantari, dengan mata sembab, berjuang menahan air matanya yang tak tertahankan.
Putranya, Kadek Angkasa, tak lagi bernyawa setelah tertimbun material longsor.
Sementara itu, di sisi lain, Gede Ibu Jari, ayah dari Angkasa, terdiam dalam kehampaan, pikirannya terhanyut jauh.
Sabtu malam yang kelam (9/3), kabar mencekam mendarat di rumah mereka.
Seorang keponakan menyampaikan berita tragis: Angkasa terjebak dalam musibah longsor. Foto sepeda motornya yang terendam lumpur menjadi bukti kepedihan yang tak terbantahkan.
"Saya melihat sepeda motor itu dalam bahaya. Anak saya ada di sana, dan saya harus mencarinya," kata Gede Ibu Jari dengan nada penuh kekhawatiran di rumah duka pada Minggu siang (10/3).
Tanpa ragu, Gede Ibu Jari segera bergegas untuk mencari anaknya yang tersesat di reruntuhan.
Namun, apa yang mereka temukan di lokasi kejadian bukanlah harapan yang diinginkan.
Angkasa telah terbungkus dalam kantong jenazah, meninggalkan keluarganya dalam duka yang tak terperikan.
Namun, sebuah penemuan mengharukan membawa sedikit cahaya di tengah gelapnya tragedi ini.
Dengan hati yang bergetar, paman korban, Putu Sutena, berusaha membuka kantong mayat, mencari kepastian bahwa itu benar-benar Angkasa.
"Saya harus membawa beberapa anggota keluarga untuk melihat langsung. Saya ingin yakin bahwa itu benar-benar dia," ungkap Putu Sutena, dengan suara gemetar.
Dalam momen yang penuh ketegangan, wajah sang korban dibersihkan dari lumpur, dan keluarga mengalami momen pahit saat menerima kenyataan.
Dalam kepedihan yang tak terperi, keluarga harus menerima kenyataan bahwa Angkasa telah tiada.
Kadek Sudiantari histeris, berharap putranya yang telah pergi tak akan kembali.
Tragedi ini telah menyisakan luka yang mendalam bagi keluarga korban serta seluruh komunitas di sekitar. ***
Editor : I Putu Suyatra