JEMBRANA EXPRESS - Sebuah peristiwa tragis menghiasi Hari Raya Kuningan di Bali, saat seorang pemuda, Kadek Angkasa, mengalami musibah di perjalanan pulang kampung dari Denpasar ke Buleleng.
Sebelumnya korban berencana pulang pada Jumat (8/3). Keinginannya berubah secara tiba-tiba, dan ia memilih untuk pulang kampung pada Sabtu (9/3). Namun, apa yang terjadi selanjutnya mengguncangkan banyak orang.
“Sebelum-sebelumnya kakak sudah bilang mau pulang penampahan kuningan. Tapi dia berubah pikiran, mungkin masih ada pekerjaan di tempat trainingnya," Kadek Sandiarta, adik sepupu korban.
"Akhirnya kakak bilang pulang besoknya. Kakak kos di Denpasar sama saya dan satu tempat magang di Hotel Grand Mirage, Nusa Dua,” kata Kadek Sandiarta.
Sebelumnya, mereka berencana pulang kampung bersama tapi akhirnya korban berubah pikiran.
Kadek Angkasa, seorang yang ulet dan bermimpi menjadi awak kapal pesiar, memutuskan untuk pulang dari tempat trainingnya untuk berkumpul dengan keluarganya di kampung halamannya.
Namun, nasib berkata lain. Saat dalam perjalanan pulang, dia terjebak dalam cuaca buruk yang melanda Buleleng.
Intensitas hujan yang tinggi memicu banjir dan longsor di berbagai titik.
Saat hendak pulang ke Desa Menyali, Buleleng, Kadek Angkasa terhalang banjir di Desa Wanagiri.
Dalam usahanya mencari jalur alternatif, dia bertemu dengan beberapa orang yang juga akan pulang ke Singaraja, Buleleng.
Mereka memutuskan untuk mencari jalur aman, namun nasib berkata lain.
Di tengah perjalanan, longsor menimpa Kadek Angkasa, menelan nyawanya.
Usianya yang masih muda, 19 tahun, membuat kepergiannya menjadi pukulan bagi keluarga dan masyarakat sekitar.
Bukan hanya Kadek Angkasa yang menjadi korban, sejumlah wilayah di Buleleng juga dilanda bencana.
Banjir merendam rumah dan jalan-jalan di sejumlah kawasan, sementara longsor menghalangi akses transportasi.
Meskipun petugas dari BPBD Buleleng sudah turun ke lapangan untuk menangani bencana tersebut, namun kerusakan dan korban yang diakibatkan oleh bencana alam tetap menjadi duka yang mendalam bagi masyarakat setempat.
Kepala BPBD Buleleng, Putu Ariadi Pribadi, menegaskan bahwa timnya tetap siaga menghadapi potensi bencana selama musim hujan.
Meskipun demikian, peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan manusia di hadapan alam, serta pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.
Tragedi yang menimpa Kadek Angkasa dan wilayah Buleleng ini menjadi momentum bagi semua pihak untuk lebih meningkatkan kesadaran akan pentingnya mitigasi bencana dan keselamatan dalam perjalanan.
Semoga peristiwa ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. ***