Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Kisah Cinta Abadi Jayaprana-Layon Sari, Diabadikan dalam Geguritan

I Putu Mardika • Selasa, 5 Desember 2023 | 22:52 WIB
Areal utama mandala Pura Jayaprana di Desa Kalianget, Kecamatan Seririt yang memiliki keyakinan tentang kisah Jayaprana-Layonsari
Areal utama mandala Pura Jayaprana di Desa Kalianget, Kecamatan Seririt yang memiliki keyakinan tentang kisah Jayaprana-Layonsari

JEMBRANA EXPRESS-Jika Italia mengenal kisah romansa Romeo dan Juliet, maka di Bali juga mengenal dengan kisah cinta abadi Jayaprana-Layonsari. Kisah ini begitu abadi, bahkan diabadikan dalam geguritan dan Pura Jayaprana di Desa Kalianget, Seririt.

Tidak sulit untuk mengakses pura ini. Posisinya di pusat desa Kalianget, di pinggir ruas Jalan Pratu Kata Siana. Pura ini ditandai dengan keberadaan candi bentar berwarna berwarna merah yang usianya sudah puluhan tahun.

Pura ini terbagi dalam tri mandala. Mandala jaba berada di sisi paling utara yang juga terdapat areal pewaregan. Kemudian areal jaba tengah yang terdapat tiga pelinggih. Sedangkan di bagian jeroan terdapat gugusan pelinggih utama. Di areal ini juga terdapat patung yang dianalogikan sebagai Jayaprana dan Layon Sari.

Ketut Suardita selaku panitia pujawali menjelaskan, pura ini melaksanakan pujawali setiap Wraspati Wuku Prangbakat. Pemedek yang nangkil berasal dari berbagai wilayah di Bali. Mereka juga banyak yang membayar kaul karena berbagai permohonan selalu dikabulkan.

Ia mengatakan, Pura Jayaprana memang sangat erat dengan kisah roman Jayaprana dan Layon Sari. Cerita rakyat ini juga terdapat dalam versi Geguritan yang kerap disajikan dalam dharma gita.

Dikatakan Suardita, belum ditemukan catatan Sejarah secara resmi yang menyebut peristiwa roman Jayaprana dan Layon Sari. Meski demikian, kisah ini diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Pura Jayaprana ini dibangun sebagai bentuk penghormatan terhadap Jayaprana dan Layonsari.

Cerita diawali dengan dua orang suami istri bertempat tinggal di Desa Kalianget mempunyai tiga orang anak, dua orang laki-laki dan seorang perempuan. Suatu hari terjadi wabah yang menimpa masyarakat desa itu, maka empat orang dari keluarga yang miskin ini meninggal dunia secara bersamaan.

Tinggallah seorang laki-laki yang paling bungsu bernama I Jayaprana, yang akhirnya memberanikan diri mengabdi di istana raja. Di istana, laki-laki itu sangat rajin dan raja pun amat kasih sayang padanya. I Jayaprana kini baru berusia dua belas tahun.

Singkat cerita, ia tumbuh menjadi remaja yang sangat tampan dan senyumnya yang sangat menarik. Beberapa tahun kemudian, suatu hari raja menitahkan I Jayaprana untuk memilih salah satu dayang-dayang yang ada di dalam istana maupun di luar istana.

Awalnya Jayaprana menolak titah baginda raja dengan alasan bahwa dirinya masih anak-anak, tetapi karena dipaksa oleh raja akhirnya Jayaprana menurutinya. Ia pun pergi ke pasar yang terletak di depan istana untuk melihat gadis yang hendak pergi ke pasar dan ia pun melihat seorang gadis yang sangat cantik.

Gadis itu bernama Ni Layonsari putri Jero Bendesa yang berasal dari Banjar Sekar. I Jayaprana sangat terpikat hatinya dan pandangan matanya terus menatap gadis itu. Sebaliknya Ni Layonsari pun sangat hancur hatinya ketika memandang pemuda tampan yang sedang duduk di depan istana.

Setelah gadis itu menyelinap di balik orang-orang yang ada di dalam pasar, maka I Jayaprana cepat-cepat kembali ke istana hendak menceritakan hal tersebut kepada Sri Baginda Raja. Setelah I Jayaprana bercerita kepada raja, kemudian raja menulis sepucuk surat untuk Jero Bendesa dan dititahkanlah Jayaprana untuk membawa surat tersebut.

Tiada diceritakan di tengah jalan, hingga I Jayaprana tiba di rumah Jero Bendesa. Ia menyerahkan surat yang dibawanya itu kepada Jero Bendesa dengan hormatnya. Jero Bendesa menerima surat tersebut dan langsung membacanya.

Jero Bendesa sangat setuju apabila putrinya yaitu Ni Layonsari dinikahkan dengan I Jayaprana. Setelah Jero Bendesa menyampaikan isi hatinya bahwa ia setuju anaknya dinikahkan dengan I Jayaprana, lalu I Jayaprana memohon diri pulang kembali ke istana. Cerita dilanjutkan dengan raja yang sedang melaksanakan sidang di pendopo.

Tiba-tiba datanglah I Jayaprana menghadap menyampaikan pesan Jero Bendesa kehadapan Sri Baginda Raja dan raja pun mengumumkan pada sidang yang isinya bahwa nanti tepatnya hari Selasa Legi Wuku Kuningan, raja akan membuat upacara perkawinannya I Jayaprana dengan Ni Layonsari. Raja memerintahkan segenap perbekel agar memulai untuk mendirikan bangunanbangunan rumah, balai-balai selengkapnya untuk I Jayaprana.

Menjelang hari upacara perkawinannya, semua bangunan sudah selesai dikerjakan secara gotong royong dan semuanya serba indah. Upacara perkawinan telah tiba, I Jayaprana diiringi oleh masyarakat desa pergi ke rumah Jero Bendesa hendak memohon Ni Layonsari dengan alat upacara selengkapnya.

Sri Baginda Raja sedang duduk di atas singgasana dihadapan para pegawai raja dan para perbekel baginda, kemudian datanglah rombongan I Jayaprana di depan istana dan kedua mempelai itu lalu turun dari atas joli serta langsung menyembah kehadapan Sri Baginda Raja dengan hormatnya. Melihat wajah Ni Layonsari, raja pun membisu tidak dapat bersabda

Setelah senja kedua mempelai itu lalu memohon diri akan kembali ke rumahnya meninggalkan sidang di paseban. Sepeninggal mereka itu, Sri Baginda Raja meminta pertimbangan kepada para perbekel cara untuk memperdayakan I Jayaprana agar ia mati, agar istrinya yaitu Ni Layonsari dapat masuk ke istana dijadikan permaisuri baginda.

Salah satu pasukan raja lalu memberikan pertimbangan yaitu agar Sri Baginda Raja menitahkan I Jayaprana bersama rombongan pergi ke Teluk Terima untuk menyelidiki perahu yang hancur dan orang-orang Bajo yang menembak binatang di kawasan Pengulon. Demikian isi pertimbangan salah satu perbekel yang bernama I Saunggaling yang telah disepakati oleh sang raja.

Cerita dilanjutkan dengan I Jayaprana yang sedang berbahagia dengan istrinya, tetapi di usia tujuh hari pernikahannya datanglah seorang utusan raja ke rumahnya dengan maksud memanggil Jayaprana untuk menghadap raja ke paseban. I Jayaprana bergegas pergi ke paseban menghadap Sri Baginda Raja bersama para perbekel.

Mereka dititahkan agar besok pagi-pagi untuk pergi ke Teluk Terima untuk menyelidiki adanya perahu kandas dan kekacauan lainnya. Hari menunjukkan senja, sidang pun diselesaikan dan Jayaprana kembali ke rumahnya. Ia disambut oleh istrinya yang sangat dicintainya itu. Jayaprana menjelaskan hasil rapat di paseban kepada istrinya.

Hari berganti menjadi malam, Layonsari bermimpi rumahnya dihanyutkan banjir besar. Ia pun langsung terbangun dari tidurnya dan menceritakan mimpinya kepada sang suami. Layonsari meminta kepada suaminya agar membatalkan rencana kepergiannya besok dengan alasan mimpi buruknya itu, tetapi Jayaprana tidak berani menolak perintah raja.

“Ia mengatakan bahwa kematian itu hanya ada di tangan Tuhan Yang Maha Esa. Hari berganti pagi, Jayaprana bersama rombongan berangkat ke Celuk Terima meninggalkan istri dan rumahnya dengan suasana haru. I Jayaprana seringkali mendapat firasat yang buruk di dalam perjalanan,” jelasnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#Roman #taksu #Jayaprana Layonsari #kisah cinta