Tidak sulit mencari Pura Mekele Gede Gamang. Lokasinya persis di sebelah timur Pura Pulaki. Bahkan, bisa disebut masih berada satu areal Pura Pulaki. Sehingga pujawalinya pun dilaksanakan bersamaan dengan Pura Pulaki dan Pesanakannya, pada Purnama Sasih Kapat.
Jika dilihat secara seksama, area Pura Mekel Gede Gamang ini tidaklah begitu luas. Pengempon sengaja memagari bangunan pura ini dengan pagar besi. Tujuannya agar wanara (monyet) yang ada di areal pura tersebut tidak mengganggu pemedek yang menghaturkan sesajen.
Saat melangkahkan kaki ke utama mandala, terlihat jelas jika pelinggih berbentuk arca tersebut berada di dalam bangunan yang menyerupai gua. Arca berbahan batu paras tersebut sepintas mirip seperti patung macan.
“Sepintas tidak terwujud. Kalau diamanu bisa berwujud bermacam rupa. Itu perlu ketenangan dan kesabaran untuk mengamatinya,” ujar Kelian pengempon Pura Pulaki dan Pesanakan, Jro Nyoman Bagiarta, 57.
Jro Bagiarta mengatakan, kisah keberadaan Pura Mekele Gede Gamang sebagai pesanakan dari Pulra Pulaki memang tidak terlepas dari Babad Pulaki. Disana erat kaitannya dengan seorang tokoh yang disucikan bernama Dang Hyang Nirartha sekitar abad ke-14 atau sekitar tahun 1489 Masehi.
Dalam babad Pulaki dijelaskan konon jumlah gamang di kawasan Pura Agung Pulaki mencapai angka 8.000 orang. Gamang ini awalnya adalah penduduk kawasan Pulaki yang dipralina (dimusnahkan) oleh Dang Hyang Nirartha menjadi wong samar. Kejadian tersebut berawal saat kedatangan Dhang Hyang Nirartha ke Bali bersama dua istrinya, Sri Padmi Keninten dan Dewa Ayu Swabawa.
Saat awal meginjakkan kakinya di tanah Bali, Dang Hyang Nirartha sempat menghadapi hambatan bertemu dengan seekor naga. Dang Hyang Nirartha yang memiliki janana tinggi dan sakti berhasil menyelamatkan diri, keluar dari mulut naga dengan mengubah rupa. Perubahan rupa Dang Hyang Nirartha membuat kedua istrinya ketakutan, hingga lari tunggang langgang.
Sri Padmi Keninten kemudian ditemukan di daerah yang sekarang disebut Pura Pagaluhan, bagian ujung atas Pura Pulaki. Sedangkan istri Dang Hyang Nirartha yang lain, Dewa Ayu Swabawa, ditemukan di Pura Melanting yang berada di kawasan pura Agung Pulaki
Setibanya disana, konon Dewa Ayu Swabawa diganggu oleh masyarakat setempat, hingga istri Dang Hyang Nirartha ini tidak mau ikut ke Istana Gelgel dan meminta panugrahan agar tidak dapat dilihat oleh manusia.
Saat itulah Dewa Ayu Swabawa diberikan ilmu kanuragan untuk berubah agar tidak dapat dilihat oleh manusia. Sedangkan 8.000 peduduk yang ada di sana dipralina menjadi wong samar, yang kemu-dian menghuni kawasan Pulaki hingga sekarang.
Ribuan wong samar itu juga terkenal sebagai tentara niskala Dang Hyang Nirartha ini hingga kini diyakini masih menjaga ketenteraman dan ancaman bahaya dari luar Bali. Keberadaan wong samar ini kemudian dipusatkan di Pura Goa Gede Gamang.
Dikatakan Jro Bagiarta, dari penuturan pengempon, konon dulunya juga ada seorang tokoh di Desa Gading Wangi disomya menjadi Wong Mekele Gede atau gamang. Beliau memiliki kepradnyanan atau kesaktian.
Beliau diberi mandat sebagai pengiring atau pengabih di parahyangan Ida Bhatara. Beliau diberikan ditugaskan sebagai penjaga dan pelindung di wilayah ini. Dwifungsinya bisa juga membantu masyarakat dalam hal pengobatan, pengleburan mala, merana, dan membantu masyarakat memberikan perlindungan, keamanan, penglukatan.
“Sehingga pemedek yang nangkil ke Pura Mekele Gede Gamang banyak yang memohon kesehatan, penyembuhan, kelancaran rejeki, bahkan jabatan. Apalagi saat musim pemilu, biasanya ramai yang nangkil,” bebernya. (dik)
Editor : I Putu Mardika