Pura ini terletak di Pinggir Pantai, Dusun Tegalalangan sebagai tempat suci untuk memuliakan Sang Hyang Widhi Wasa dalam prabhawa atau perwujudan (manifestasinya) Dewa Kembar/Ida Bhatara Manik Kembar
Berdirinya Pura Manik Kembar tidak dapat dipisahkan dengan kedatangan Beliau Mpu Kuturan di Bali. Mpu Kuturan juga mengenalkan konsep pemujaan Tri Murti yang dianut oleh desa adat di Bali.
Dalam catatan sejarah disebutkan bahwa, runtuhnya Bulakan pada tahun 1622 membuat seluruh penduduk Desa Adat Bulakan pergi mengungsi ke Desa Datah dan Bunyang. Akibatnya Kayangan Tiga yang didirikan tidak berpungsi sebagaimana mestinya. Termasuk Pura Dalemnya yang sekarang di kenal dengan nama Pura Manik Kembar.
Perubahan Pura Dalem Bulakan menjadi Pura Manik Kembar melalui pristiwa yang panjang. Sebelum bernama Pura Manik Kembar, Pura Dalem Bulakan bernama Pura Batu Belah. Pura Batu Belah ini diempon oleh krandan Batu Belah yang berasal dari orang-orang Bulakan yang kembali ke Bulakan yang dulunya melarikan diri ke Datah dan Bunyang pada saat Rug Bulakan.
Jero Mangku Nengah Sukerti selaku pengempon Pura Manik Kembar menjelaskan, nama Batu Belah diambil dari sebuah Batu Belah yang mengeluarkan Tirta Sudamala. Batu Belah ini ada di lokasi Pura tersebut, tepatnya di Barat pintu keluar Pura Batu belah.
Terlepas dari Sejarah panjang, Pura Manik Kembar menjadi salah satu pura yang seringkali didatangi pemedek yang memiliki anak kembar. Nangkilang anak kembar ini merupakan rangkaian dari upacara kembar yang dilaksanakan baik pada saat upacara ngelinggihang kembar/ngenteg linggih, ngodalin dewa kembar, yang pada umumnya dirangkaikan dengan upacara anak kembar tersebut, dari upacara tigabulanan sampai dengan upacara perkawinan.
Untuk upacara tersebut di atas, maka masing-masing rumah tangga yang memiliki anak kembar membangun palinggih (bangunan suci) dalam wujud gedong kembar untuk menstanakan Dewa Kembar.
Pembuatan banyaknya rong tersebut disesuaikan dengan jumlah anak kembar yang lahir. Kalau yang lahir kembar dua, maka dibuatkan palinggih yang memiliki rong kalih atau rong dua. Sedangkan apabila anak yang dilahirkan kembar tiga, maka palinggih tersebut terdiri dari tiga rong.
“Perwujudan palinggih itu tidak lain adalah merupakan perwujudan rasa syukur ke hadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dalam manifestasinya sabagai Dewa Aswin (Dewa Kembar),” kata Jro Mangku Nengah Sukerti,
Keberadaan Pura Manik Kembar sangatlah penting terutama bagi keluarga tertentu yang memiliki keturunan atau kelahiran kembar. Ini sangat dipercaya oleh orang yang mempunyai anak kembar. Yang bersangkutan sangat percaya dan yakin terhadap pura tersebut.
“Mereka yakin bahwa kelahiran anak kembarnya mendapat keselamatan dan keberuntungan bagi keluarga apabila setiap proses upacara anak tersebut diawali dengan nangkilang ke Pura Manik Kembar,” paparnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika