Posisi Pura Goa Tirta Sunia jaraknya sekitar 800 meter sebelah barat Pura Pulaki. Lokasinya juga sekitar 20 meter sebelah timur antara perbatasan antara Desa Banyupoh dengan Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak.
Secara struktur pura, terbagi atas tiga areal. Yakni areal nista mandala, madya mandala dan utama mandala. Di areal Nista Mandala terdapat sejumlah pelinggih penyawangan yang posisinya persis di pinggir jalan.
Pelinggih ini sebagai tempat penyawangan jika tidak sempat untuk nangkil ke atas. Umumnya dilakukan bagi orang yang sekedar lewat saat perjalanan dan memohon ijin untuk diberikan keselamatan.
Kemudian bagian madya mandala yang dibatasi oleh candi bentar. Sepanjang madya mandala tidak terdapat pelinggih. Namun hanya ada anak tangga yang di sisi kanan dan kirinya terdapat patung naga. Sedangkan pada bagian utama mandala, terdapat goa yang hanya ada satu pelinggih berupa patung
Pura ini berada di ketinggian sekitar 30 meter. Bahkan menempel di dinding tebing batu perbukitan Pulaki. Dari jalan raya menuju pura, pengunjung hanya menempuh sekitar 120 anak tangga.
Saat sampai di areal pura terdapat goa setinggi 1,8 meter. Di mulut goa terdapat sebuah patung yang diselimuti kain hijau. Patung inilah yang diyakini sebagai stana dari Ida Bhatara Lingsir dan Ida Ratu Niang Lingsir.
Pemedek bisa melaksanakan persembahyangan di goa ini secara bergilir, karena areal pura di tebing tergolong sempit. Selain itu, jika posisi badan berbalik ke utara, maka terlihat jelas pemandangan dari ketinggian dan hamparan Pantai Pulaki yang membiru.
Pemangku Pura Jro Mangku Kadek Sinar Bali, 39 menceritakan, awalnya sebelum menjadi pura seperti sekarang, kawasan tebing ini memang begitu lebat ditumbuhi oleh Semak belukar. Bahkan, kerap dijadikan sebagai tempat untuk berlatih bagi pasukan TNI AD.
Sekitar tahun 1994, kakeknya bersama sang ayah perlahan mulai membersihkan tempat itu. Bukan tanpa alasan, karena leluhurnya merasa ada getaran spiritual yang membuat tempat itu menjadi terasa istimewa.
“Memang sudah ada goa seperti ini. Panjang goa tidak lebih dari 10 meter dari mulut goa, dan akhirnya buntu. Namun, sudah pasti hanya orang yang memiliki tingkat spiritual yang tinggi dan jnana tinggi bisa melihat apa isi di dalam goa dan tembusnya kemana,” katanya.
Ia menceritakan setelah dibersihkan, almarhum sang kakek kala itu yang memiliki usaha babi merasa dilancarkan usahanya dalam mendapatkan rejeki. Sang kakek akhirnya secara bertahap mulai menata areal Pura Goa Tirta Sunia.
Seperti membersihkan Semak belukar, membangun wantilan, membuat tembok penyengker sebagai pembatas. Sejak itulah pemedek mulai berdatangan untuk nangkil ke Pura Goa Tirta Sunia.
Penamaan Goa Tirta Sunia bukan tanpa alasan. Sebab, nama Goa itu diambil karena di areal suci tersebut terdapat goa yang sudah permanen sejak dulu. Goa itu ada secara alamiah tanpa campur tangan manusia.
Tirta sunia juga dimaknai sebagai air suci yang tidak terlihat (sunia) secara kasat mata. Tetapi, air suci itu hanya sesekali mengucur dari langit langit goa yang lubangnya hanya ada satu.
“Karena tirtanya tidak terlihat, makanya dikatakan sunia. Tetapi terkadang juga sesekali keluar. Nah itu fenomena langka,” sebutnya.
Pernah pada suatu ketika, air menetes dari atas langit langit goa. Namun, Mangku Sinar, mengira air itu menetes dari air hujan. Karena kebetulan pada waktu itu memasuki musim penghujan.
Rupanya, ia mendapat teguran dari tapakan Ida Sesuhunan. Jro Mangku Sinar disebut abai terhadap paica berupa air suci tersebut. Sehingga ia pun akhirnya mewadahi tirta suci itu untuk digunakan.
“Tiang ditegur, beliau bendu (marah) kok dibiarkan begitu paica (tirtanya). Beliau lewat Jro Tapakan meminta agar tiang mewadahi tirta langka itu. Kemudian bisa dicampur dengan air tabah, untuk digunakan memerciki pemedek yang nangkil,” kenangnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika