Secara geografis, Pulau Menjangan posisinya di sebelah utara ujung barat Pulau Bali. Jaraknya sekitar 76 kilometer arah barat Kota Singaraja, atau berjarak sekitar 6,5 kilometer ke arah utara Labuan Lalang, Desa Sumberkelampok. Pulau seluas 175 hektar ini juga bisa diakses dari Labuhan Banyumandi, Banjar Dinas Batuampar, Desa Pejarakan.
Koran inipun sempat nangkil menuju ke Pulau Menjangan pada Sabtu (30/4) lalu bertepatan dengan Tilem. Penyebrangannya melalui Banyumandi, Desa Pejarakan, melalui perahu yang berkapasitas 10 orang penumpang.
Sejumlah nelayan pun sudah stand by dengan perahunya menunggu pemedek yang hendak nangkil ke pura. Mereka juga kerap mengantar wisatawan yang hendak melakukan aktivitas snorkeling, diving, trekking hingga tour temple di kawasan Pulau Menjangan.
Waktu tempuh menuju Pulau Menjangan dari Banyumandi sampai 30 menit. Selama perjalanan laut, pemedek akan disuguhi oleh pemandangan pesisir yang sangat indah dan menakjubkan. Ditambah dengan birunya air laut dengan kekayaan biota lautnya yang nampak dari permukaan laut.
Begitu sampai di Pulau Menjangan, perahu sudah bisa langsung nyandar di dermaga tanpa harus mengantri berlama-lama. Posisi pelinggih di kawasan pulau ini sebagian besar letaknya di sisi timur Pulau Menjangan.
Seperti namanya pulau Menjangan, begitu menginjakkan kaki di areal pulau ini, sejumlah hewan Menjangan mulai menampakkan diri. Satwa dilindungi dengan warna coklat muda ini begitu jinak dan mendekati pemedek. Spontan saja, pemedek langsung mengambil hp untuk mengabadikan momen ini.
Sekitar 30 meter dari dermaga, pemedek terlebih dahulu untuk melakukan persembahyangan di pelinggih Lebuh. Setelah itu lanjut berjalan kaki dengan menyusuri jalan yang dipaving menuju pelinggih selanjutnya.
Pemedek wajib melakukan persembahyangan di Pura Taman Beji. Selanjutnya bergeser ke Pasraman Brahma Ireng linggih Ida Ratu Lingsir Kebo Iwa. Kemudian persembahyangan dilakukan ke pelinggih Dewi Kwam Im, pelinggih Gadjah Mada yang meraga Wisnu Murti.
Persembahyangan bergeser ke pelinggih Dalem Waturengggong, Dalem Erlangga, Hyang Bhatara Pasupati, Ida Bhatara Hyang Ganesha, Linggih Ida Ratu Kanjeng Roro Kidul, linggih Ida Ibu Parwati, Lingga Yoni dan Sang Hyang Semar. Seluruh persembahyangan dipimpin langsung oleh Pemangku.
Ratu Ibu Tungga Bhuwana Pertiwi selaku pengempon kawasan Pura Gili Menjangan mengatakan kawasan pura Gili Menjangan mulai dibangun sejak tahun 1999.
Wanita yang saat Welaka bernama Tjokorda Istri Rai Suryatnini dan Suami Nyoman Sudiarta mengaku ngayah di kawasan pura ini sejak tahun 1999 lalu. Kala itu memang belum ada bangunan pura seperti sekarang ini. Semuanya masih seperti pulau tak berpenghuni. Yang ada hanyalah hewan Menjangan.
Ia bersama masyarakat setempat membangun pelinggih secara bahu membahu dari dana punia yang dihaturkan pemedek di kawasan Pulau Menjangan. Pembangunan pura dilakukan secara bertahap dan rampung tahun 2006 silam.
“Bahan bangunan untuk pelinggih semua dibeli dari hasil dana punia pemedek. Materialnya diangkut dari Labuhan Lalang. Biaya angkutnya bisa tiga kali lipat karena memang pakai boat untuk ngangkutnya,” kenangnya.
Secara perlahan bangunan seperto pelinggih Lebuh, Taman Beji, Pasraman Brahma Ireng linggih Ida Ratu Lingsir Kebo Iwa, Dewi Kwam Im, Gadjah Mada, Dalem Waturengggong, Dalem Erlangga, Hyang Bhatara Pasupati, Ida Bhatara Hyang Ganesha, Linggih Ida Ratu Kanjeng Roro Kidul, Linggih Ida Ibu parwati, Lingga Yoni dan Sang Hyang Semar akhirnya rampung dibangun.
Diceritakannya jika pura kawasan Gili Menjangan memang dibangun atas pawisik yang diterimanya dari Mahapatih Gadjah Mada. Bahkan, dalam pawisik juga disarankan untuk membangun pelinggih Kebo Iwa dan Ida Bhatara Hyang Pasupati.
“Beliau (Gadjah Mada, Red) ada perjanjian dengan penglingsir Kebo Iwa dan Ida Bhtara Hyang Pasupati. Jika Bali gonjang-ganjing, maka beliau akan kembali dan berjanji khususnya berstana di Pura Pingit Klenting Sari di Pulau Gili Menjangan. Itulah sebabnya mengapa juga dibangun Pelinggih Kebo Iwa dan Hyang Pasupati” ceritanya.
Pembangunan pelinggih Dewi Kwan Im juga tidak lepas dari pawisik yang diterimanya. Meski tidak berani berjanji mewujudkan dalam waktu dekat, namun secara bertahap akhirnya satu persatu pelinggih dibangun. “Semua dana dari umat seluruh Bali dan Nusantara” sebutnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika