Ratu Ibu Tungga Bhuwana Pertiwi mengatakan saat pujawali umumnya nyejer selama 7 hari tahun pertama. Kemudian tahun kedua nyejernya selama 11 hari. Begitu seterusnya secara bergantian di angka tujuh hari dan sebelas hari.
“Misal tahun 2000 pujawalinya diambil nyejer selama 7 hari saat purnama Sasih Kapitu. Kemudian tahun 2001 itu diambil nyejer selama 11 hari. Memang itu permintaan Beliau (Gajah Mada, Red)” ungkapnya.
Pemangku yang ngayah pun jumlahnya cukup banyak. Mereka sebagian besar ngayah karena kejumput (ditunjuk secara niskala, Red). Kisah para pemangku pun sebutnya beragam sehingga mereka bisa ngayah di Pulau Menjangan.
Ada yang karena sakit tak kunjung sembuh dan tidak terdeteksi secara medis, ada pula karena mengalami berbagai musibah yang tak henti-hentinya. Hingga akhirnya mereka mendapat petunjuk untuk ngayah di Pulau Menjangan
“Memang tidak boleh sembarangan masuk (ngayah, Red) di sini. Kalau hanya sebatas ngaku kejumput, tetapi tidak ikhlas, biasanya bisa tidak kuat bertahan. Karena kalau sudah ngayah itu harus ikhlas. Bisa sehari full melayani pemedek yang nangkil sampai lupa makan karena saking padatnya. Mereka yang kejumput rata-rata memang sudah siap lahir bathin,” paparnya.
Saat hari Purnama dan Tilem jumlah pemedek yang nangkil mencapai ratusan orang. Jumlah itu bisa dilihat dari orderan boat yang mencapai 35 boat per hari. Jika setiap boat isinya 10 pemdek, maka dalam sehari jumlahnya mencapai 350 nangkil untuk sembahyang.
Disinggung terkait pantangan saat nangkil, Ratu Ibu menyebut agar pemedek tidak menghaturkan daging babi seperti babi guling ke pelinggih di kawasan Pulau Menjangan. Sebab, dari beberapa kali pengalaman yang terjadi babi guling akan diseruduk oleh hewan Menjangan dan dibawa kabur entah kemana.
“Pernah sudah terhadi, umat bawa daging babi langsung dibawa sama Menjangan kemudian dibuang. Itu Sudah berkali-kali kejadiannya. Umat sudah membuktikan. Jadi jangan sampai seperti itu. Bisa haturkan sarana apapun, selain daging babi,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika