Pura Melanting yang notabene sebagai Kahyangan Jagat, di Desa Banyupoh, Kecamatan Gerokgak, Buleleng menjadi salah satu pura yang senantiasa ramai dikunjungi pemedek untuk nangkil saat rahina Buda Wage Klawu.
Tak jarang, para pemedek yang nangkil membawa daksina linggih untuk dipasupati di Pura Melanting. Kemudian daksina linggih tersebut distanakan di tempat usaha dagang demi mendapat kelancaran rejeki.
Kelian Pengempon Pura Pulaki dan Pesanakan, Jro Nyoman Bagiarta mengatakan, Pura Melanting di Desa Banyupoh selalu menjadi magnet spiritual, khususnya bagi masyarakat yang berprofesi sebagai pedagang. Bukan tanpa alasan, mengingat di Pura Melanting berstana Dewi Melanting yang disejajarkan dengan Bhatara Rambut Sedana, atau Dewa Kwera, sebagai Dewanya Uang
“Beliqu berwujud sebagai Bhatari Melanting adalah Ida Ayu Swabawa yaitu putri dari Dang Hyang Nirarta yang telah berubah wujud,” ujar Jro Bagiarta.
Keberadaan Pura Melanting memang sangat erat kaitannya dengan perjalanan pendeta sakti dari tanah Jawa bernama Dang Hyang Nirartha. Dikatakannya, dalam Lontar Agastia disebutkan ketika Dang Hyang Nirartha melakukan perjalanan suci dari Jawa ke Bali.
Saat sampai di Pulaki, Beliau melihat seekor naga yang menakutkan dan menganga mulutnya. Dang Hyang Nirartha pun masuk ke tengah mulut naga itu. Setiba di perut naga, beliau melihat ada telaga yang berisi bunga teratai tiga warna.
Kemudian bunga itu disumpangkan di telinga. Teratai merah di telinga kanan, hitam di telinga kiri dan teratai putih dipegang. Sehingga saat keluar dari perit naga, istri dan putrinya melihat Dang Hyang Nirartha berubah warna. Putrinya pun lari ke arah yang berbeda.
Selanjutnya, Dang Hyang Nirartha mencari putrinya untuk dikumpulkan. Putrinya pun ditemukan dalam kondisi wajah pucat pasi. “Lalu Dang Hyang Nirartha bertanya, mengapa putrinya menjauh, sang putri menjawab ia lari karena ketakutan saat melihat sang Ayah keluar dari mulut naga,” paparnya.
Sang putri kemudian meminta anugerah kepada Dang Hyang Nirartha berupa kasunyatan, sehingga tidak bisa dilihat orang. Setelah itu lenyaplah sang putri, namun berada di tengah asrama yang disebut Dalem Melanting, sehingga disebut Bhatari Melanting.
Danghyang Nirartha juga menganugerahkan agar Ida Ayu Swabhawa tak dikenai oleh umur tua dan kematian. “Dewi Melanting memiliki pasukan gaib sekitar delapan ribu. Mereka bertugas menjaga Dewi Melanting, dan didoakan agar tidak kekurangan maakanan, minuman, emas permata,” paparnya.
Lanjutnya, ada pula versi lain yang menyebutkan bahwa Bhatara Mahadewa yang disebut Bhatara Tohlangkir yang bersemayam di puncak Gunung Agung, mengutus Sang Hyang Dwijendra untuk menyampaikan bahwa para dewata di Bali-lah yang meminta agar Ida Ayu Swabhawa menjadi dewanya para lelembut untuk menjaga alam Bali hingga di kelak kemudian hari.
Hal itulah menjadi alasan Dang Hyang Nirartha bersedia melaksanakan tugas menggaibkan putri kandungnya sendiri agar tetap sebagai penghuni alam Lelembut yang tidak dibatasi oleh umur tua dan kematian (tan keneng tuwa pati)
Sebagai pura fungsional, Pura Melanting setiap harinya selalu ramai dikunjungi oleh pemedek. Mereka berasal dari berbagai penjuru Bali. Bahkan pura ini tak hanya ramai dikunjungi saat Purnama dan Tilem, tetapi juga hari-hari suci lainnya.
Saat pujawali yang jatuh setiap Punama Sasih Kapat, yang diperingati setiap setahun sekali, ribuan umat Hindu datang dari berbagai pelosok Bali untuk memohon kelancaran dan kemakmuran usahanya.
Dikatakan Jro Bagiarta, sejauh ini rata-rata pemedek yang nangkil membuka usaha perdagangan di Bali, misalnya pedagang di pasar, toko sembako, pemilik warung, bahkan sampai ke perusahaan-perusahaan seperti perbankan, lembaga perkreditan desa (LPD) hingga koperasi simpan pinjam.
“Bagi yang berjualan atau memiliki usaha lain, biasanya membawa pejati dan Daksina Linggih untuk mepinunas,” ungkapnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika