Kelian Desa Adat Pemuteran, Jro Ketut Wirdika, 46 mengatakan Tari Dewa Ayu dipentaskan pada saat dilaksanakan upacara yadnya. Baik upacara pawiwahan, ngaben,pujawali di pura yang penyungsungan masyarakat asal Seraya maupun upacara tiga bulanan. Tarian sakral ini diyakini sebagai penetralisir dari gangguan para bhuta kala yang belum mendapatkan sesaji labaan.
Jro Ketut Wirdika menceritakan dari penuturan para pendahulunya, sebelum tahun 1930-an warga Seraya bernama Pan Baru dan Pan Mida datang ke daerah Pemuteran Buleleng untuk membuka daerah baru sebagai tempat bercocok tanam (bertani) sekaligus untuk membuat tempat tinggal.
Rupanya banyak hambatan yang dialami baik dari alam, binatang buas dan gangguan-gangguan gaib yang tidak dapat dipahami oleh Pan Baru dan Pan Mida. Bahkan, pendatang dari dareah lain yang mencoba tinggal di Pemuteran pun kerap mengalami kendala
Atas berbagai gangguan tersebut, pan Mida dan Pan Baru kemudian teringat dengan tarian Dewa Ayu yang sudah membudaya dan di sakralkan oleh warga Seraya Karangasem. Karena dirinya merasa sebagai warga Seraya akhirnya mereka berdua merencanakan dan melaksanakan upacara Yadnya seadanya sesuai dengan kemampuan serta keyakinan dan dipentaskannya Tari Dewa Ayu (medewa Ayu) seadanya.
Dengan dilaksanakannya tari sakral Dewa Ayu Pan Baru dan Pan Mida beserta warga lainnya mulai merasakan adanya perubahan gangguan mulai berkurang, merasakan adanya kenyamanan, alam, binatang dan gangguan gaib berangsur-angsur tidak dirasakan lagi. Pan Mida dan Pan Baru beserta warga yang ada di daerah Pemuteran kemudian dapat melaksanakan aktivitas dengan lancar sesuai dengan harapan warga Pemuteran
Ia menambahkan, setiap karya (upacara) yadnya di Pura Desa, Pura Segara, Pura Dalem, Tarian Dewa Ayu selalu di pentaskan. Masyarakat Desa Pemutaran meyakini bahwa pementasan tari Dewa Ayu merupakan bagian dari persembahan ke hadapan Ida Sang Hyang Widi Wasa yang telah memberikan memberikan perlindungan, keselamatan, kekuatan, kesejahtraan dan kebahagian hidup.
Tempat pementasan Tari Dewa Ayu ini adalah di halaman tengah (jaba tengah). Tarian ini juga dipentaskan di semua pura yang ada di Desa Pemuteran antara lain Pura Desa, Pura Segara, Pura Bukit Teledu, Pura Batu, dan Pura Dalem.
Prosesi pementasan Tari Dewa Ayu diawali dengan persembahan sarana Base Tampina kepada Ida Batara untuk menyertai pementasan Tari Dewa Ayu. Base Tampinan akan diberikan sebelum para penari mulai menari, tujuannya untuk menyucikan badan penari yang akan dimasuki oleh roh para dewa
Tarian Dewa Ayu dipentaskan pada saat persembahyangan telah selesai. Pertama-tama, beberapa orang pemangku memendet dengan membawa canang sari dan dupa. Biasanya, ada beberapa pemangku yang kerauhan.
“Setelah para pemangku itu menari akan diikuti oleh pemedek-pemedek lainnya. Mereka akan ikut menari-nari dengan membawa canang sari dan dupa, mereka menari dengan keadaan mata tertutup, dan semua menari mengikuti gambelan dari sekaa degdeg yang ada,” sebutnya.
Satu persatu dari penari mulai kerauhan dan diambilkanlah sebuah keris oleh jero mangku. Mereka akan menari dengan menghujamkan keris itu ke dada mereka atau disebut ngurek. Dalam keadaan itu penari sudah tidak sadarkan diri dan kadang-kadang ada penari yang tidak cukup hanya menggunakan satu buah keris melainkan dua keris ditancapkan ke dada penari.
Saat adegan ngurek ini tempo gambelan akan lebih cepat dan keras. Para penari akan berhenti menari jika penari itu sudah melepaskan kerisnya dari dada dan mengarahkannya ke atas seperti orang menyembah dan keris itu. Barulah keris akan di ambil oleh jero mangku, agar keris tersebut tidak jatuh ke tanah. “pantang keris itu jatuh, karena sangat pingit,” imbuh pria yang leluhurnya berasal dari Seraya Karangasem ini.
Setelah keris itu diarahkan ke atas yang artinya penari itu sudah berhenti menari, keris ini akan diambil oleh pemangku dan di bawa ke jeroan untuk kembali diberi tirta. Begitu juga penarinya sesudah melakukan adegan ngurek dalam kondisi trance akan di bawa ke jeroan untuk diberikan tirta agar kembali sadar seperti awalnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika