Penyarikan Pura Sekar Tejakula, Jro Nyoman Kerta mengatakan, tidak ada catatan tertulis sebagai bukti otentik sejak kapan pura tersebut didirikan. Namun, dari mitos yang berkembang dan dipercayai masyarakat dari jaman dahulu, pura yang letaknya di pesisir Pantai Tejakula ini sangat erat kaitannya dengan perahu bocor.
Menurut cerita, konon dulu ada perahu yang bocor hingga pecah saat gendak berlayar. Perahu tersebut diceritakan membawa banyak barang niaga, salah satunya gabah atau padi. Kemudian dalam keadaan situasi kurang aman, akhirnya perahu itu menepi ke daratan.
Dikisahkan, awak perahu konon berasal dari beberapa agama. Seperti muslim, Buda, dan Hindu. Setelah menepi, barang-barang di perahu diturunkan kembali ke daratan untuk meringankan beban barang.
“Setelah barang diturnkan, awak kapalnya bersemedi di sebuah tempat, kemudian tidak tahu kemana perginya, akhirnya awak kapal tidak ditemukan dan menghilang. Nah sementara padi yang dibawa oleh perahu dan diturunkan itu oleh masyarakat diminta padinya dan ditanam di Tejakula,” jelasnya.
Kemudian dari awak kapal yang bersemedi, lama kelamaan bagi masyarakat Tejakula ini dianggap angker dan keramat. Akhirnya banyak yang datang kesana untuk memohon kepada yang berstana di sana.
Dari permohonan itu konon katanya apa yang dimohon masyarakat akan kepaica (terpenuhi, Red). Mulailah mastarakat tangkil ke Pura Sekar. “Awalnya bukan berupa pura, hanya sebuah tempat yang hanya dipecaiayai memiliki kescian, tempat angker dan banyak bebatuan,” imbuhnya.
Konon, dari cerita secara turun temurun, benih padi yang diperoleh dari kapal tersebut lalu ditanam dan tumbuh subur, masyarakat juga menikmati hasilnya. Lama kelamaan banyak yang sembahyang dan ngempon.
“Karena berada di tempat suci dan subur, akhirnya pura dinamai dengan pura sekar. Ini dimaknai sebagai bunga dan lambang kesucian atau keindahan, kemakmuran,” kata pria yang sudah ngayah sejak tahun 1988 ini.
Sekarang, padi yang ditanam dianggap sebagai berkah, sehingga di pura Sekar juga distanakan sebagai tempat pemujaan kepada Dewi Sri, sehingga ada pelinggih utama yang disebut Ratu Ayu Jong Galuh sebagai Dewi Padi. Awalnya sebelum terbentuk masyarakat seperti sekarang, maka yang menjadi pengempon sebelumnya diserahkan kepada subak carik
Lambat laun di tempat tersebut dibangun pelinggih. Jejak para awak kapal yang berasal dari agama berbeda pun dibuatkan pelinggih. Sebagai bukti adanya pelinggih Ida Bhatara China atau Ratu Bagus Mas Subandar.
Di pura ini, terdapat pakaian China yang lengkap dengan topi, kaca mata, baju, celana, sepatu, cangklong. Pakaian ini konon menurut cerita orang tua atau penglingsir Pura Sekar, diyakini sudah ada disana sejak dulu.
“Bukti lain yang bisa ditunjukkan, bahwa pada saat piodalan di Pura Sekar, kalau ada orang kerauhan yang menggnakan Bahasa Cina yang sangat fasih. Padahal beliau tidak ngerti Bahasa China. Sehingga kami sangat meyakini jika beliau memang benar berstana di Pura Sekar,” sebutnya.
Selain pelinggih Ida Bhatara China atau Ratu Mas Subandar, di Pura Sekar juga ditemukan pelinggih Ratu Gede Serapat. Masyarakat setempat lazimnya menyebut pelinggih tersebut dengan sebutan Ratu Mekah.
Sedangkan terkait dengan Pujawalinya Jro Nyman Kerta menyebut jika di Pura Sekar Tejakula tegak odalannya tidak sama dengan pura lain. Di Pura Sekar pujawalinya mengikuti petunjuk dengan sejumlah lontar yang menjadi pegangan tentang pelaksanaan pujawali
Dari perhitungan Saptawara, hari pujawali itu diambil pada Anggara (Selasa). Sedangkan pada perhitungan Pancawara diambil pada Kliwon, ehingga disebut Anggarkasih. Kemudian perhitungan sasihnya ada empat. Diantaranya Sasih Kapat, Sasih Kelima, Sasih Kenem dan Sasih Kedasa.
Kemudian Posisi atau bulan tidak dalam setelah Purnama. “Jadi pujawali hanya bisa dilaksanakan sebelum purnama sampai Purnama. Artinya kalau Anggarkasih Prangbakat kalau sasih kapat bisa. Kalau Sasih Kelima, Kenem dan Kedasa. Jadi belum tentu setahun pujawalinya, belum tentu juga dua tahun atau lima tahun sekali. Tidak tentu asalnya sudah sesuai dengan syarat yang ditentukan,” tegasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika