Pementasan ini diakui Penyarikan Jro Nyoman Kerta nemang ini ada kaitannya dengan Ida Bhatara China. Dalam atraksi barongsai ini, terdapat krama desa yang memberikan angpao kepada barongsai sebagai wujud terimakasih kepada Ida Bhatara Ratu Bagus Mas Subandar. Ia menyebut, jumlah krama pengempon saat ini mencapai 470 kepala keluarga.
Atraksi inipun kerap ditunggu-tunggu oleh krama Desa Adat Tejakula. Sebab, masyarakat menjadikan pementasan ini sebagai hiburan yang berbeda dibandingkan pementasan kesenian pada umumnya. Tak ketinggalan, Wayang Wong sebagai kesenian khas Tejakula juga turut dipentaskan dalam mensukseskan pelaksanaan pujawali.
Selain pementasan Barongsae, pengempon pura juga kerap mempersebahkan sarana seperti buah, uang emas, permen, kue sebagai wujud terima kasih kepada Ida Bhatara Ratu Bagus Mas Subandar.
“Ini memang petunjuk dari Pemangku di Konco Batur. Ada sarana yang digunakan seperti ngosing, ada samsing. Kalau ngosing itu gunakan enam daging. Semisal daging babi, ayam, itik, bebek, ikan laut, udang,” jelasnya.
Secara arsitektur, pelinggih Ida Ratu Bagus Mas Subandar merupakan akulturasi dari China dengan Bali. Dimana, ornamen di pelinggih ini sangat bernuansa China, dengan warna merah yang mendominasi. Ornamen Naga Liong juga kian menguatkan arsitektur China.
“Memang krama banyak yang sudah membuktikan jika di Pelinggih ini beliau sangat bares. Ada yang memohon kemakmuran, kesehatan dan karir yang bagus. Sering terkabulkan, sehingga begitu dikabulkan, mereka naur sangi sebagai ucapan terima kasih,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika