Suka Ardhiyasa menjelaskan Pura Silayukti didirikan pada abad 11 untuk menghormati kebesaran jasa-jasa Mpu Kuturan di Bali, baik selaku pejabat tinggi pemerintahan pada masa raja Marakata dan raja Anakwungsu, maupun selaku pimpinan agama Hindu di Bali pada zaman Bali Kuna.
Dalam lontar Babad Bendesa Mas disebutkan, bahwa Mpu Kuturan berwisma di Silayukti dan beliau tinggal di sana sampai wafat. Tahun berapa beliau wafat, tidak diketahui dengan pasti. Setelah Mpu Kuturan wafat sekitar abad 11, di tempat wisma beliau, didirikan pura sebagai tempat pemujaannya.
“Pelinggih yang dibuat hanya bebaturan saja. Pelinggih sederhana itu sampai tahun 1931 saja. Sejak tahun 1931, Pura Silayukti diperbesar dan jumlah pelinggih ditambah. Bebaturan itu kemudian diganti dengan meru tumpang tiga,” jelasnya.
Mpu Kuturan juga membangun Pura Samuan Tiga. Di pura ini terdapat peristiwa yang sangat penting dalam perjalanan sejarah Bali, khususnya yang berkaitan dengan tatanan kehidupan religious masyarakat Bali. Samuan tiga secara etimologi terdiri dari 2 (dua) kata yaitu Samuan yang bermakna Sangkep atau pertemuan, dan tiga menunjuk pada bilangan tiga.
Dengan demikian Samuan Tiga berarti pertemuan segitiga atau pertemuan yang dihadiri oleh tiga unsur kekuatan (kelompok). Pertemuan yang dimaksud adalah bertemunya tiga kelompok besar aliran kepercayaan guna menyatukan visi tentang sistem kepercayaan di Bali.
Pertemuan tersebut dihadiri tiga kelompok besar diantaranya Agama Budha Mahayana diwaikili oleh mpu Kuturan yang juga sebagai ketua atau pimpinan siding. Agama Ciwa diwakili oleh tokoh-tokoh atau pemuka-pemuka Agama Ciwa dari Jawa.
Semenjak itu setiap penganut Ciwa Budha, diharuskan mendirikan tiga buah bangunan suci (pura) sebagai tempat memuliakan dan memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam prabhawa atau manifestasi-Nya. Yakni Pura Bale Agung, Pura Puseh dan Pura Dalem.
Selain itu, Mpu Kuturan juga berjasa dalam membangun Pura Sakenan bersamaan dengan pembangunan beberapa pura lainnya pada jaman pemerintahan Raja Cri Macula Maculi. Mengenai asal mula dibangunnya Pura atau Kahyangan Sakenan ini juga disebutkan di dalam Lontar Usana Bali.
Kemudian ketika Danghyang Nirartha mengadakan perjalanan keliling pulau Bali mengunjungi tempat-tempat suci, beliau sampai pula di pulau Serangan, dan pada bagian Barat pantai pulau Serangan ini beliau membangun bangunan suci (pura).
Dikatakan Suka, pura besar lainnya yang dibangun Mpu Kuturan seperti Pura Watu Klotok yang didirikan bertujuan untuk pemujaan Hyang Widhi sebagai tempat memohon agar air danau selalu terlindungi, tidak mengalami kekeringan.
“Jika Danau penuh, maka air akan mengalir melalui sungai-sungai. Dari sungai-sungai itulah sawah dan ladang mendapatkan air. Intinya kesuburan sawah-ladang akan terpelihara. Pura Watu Klotok menjadi sangat penting karena dalam Lontar Purana Besakih menyebutkan pantai Watu Klotok sebagai tempat pesucian Ida Bhatara Besakih,” jelasnya.
Dalam Lontar Usana Bali Mpu Kuturan, juga membangun Pura Luhur Uluwatu. Kata Uluwatu sendiri secara etimologi berasal dari kata ulu yang berarti kepala/ujung, dan kata watu yang berarti batu, jadi Uluwatu memang benar adanya, karena pura tersebut terletak diujung tebing selatan Pulau Bali.
Atas jasanya Mpu Kuturan juga dibuatkan pelinggih di setiap Sanggah Kawitan di Bali dalam bentuk Pelinggih Menjangan Salwang. Menjangan Salwang yang bentuknya panjang ini terdiri dari tiga ruang (rong) yang cukup besar. Rong pertama dan kedua hampir sama lebarnya kira-kira 75 cm.
Dalam rong yang besar yang ditengah, berisi kepala menjangan lengkap dengan tanduknya. Bentuk Menjangan Seluang rupanya memang dimaksudkan untuk menunjukkan adanya tiga kelompok besar masyarakat zaman dulu.
Konon Mpu Kuturan ke Bali menunggangi seekor menjangan. Namun dibalik ungkapan tersebut, Menjangan Salwang dapat diartikan sebagai balai yang panjang dan luas, dimana “Manjangan” berarti panjang, “salu” berarti balai dan “wang” berarti luas. Sehingga kata Manjangan Salwang diartikan sebagai lambang dari balai yang panjang dan luas, dimana tempat itu digunakan sebagai tempat pertemuan para dewa
Dikatakan Suka Pelinggih Menjangan Salwang atau Sakaluang dipandang sebagai penyatuan pikiran, pendapat, pandangan atau keinginan keluarga. “Jadi sebagai lambang persatuan dan kesatuan, serta kerukunan rumah tangga atau keluarga,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika