Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Bangun Pura Silayukti, Dihormati lewat Menjangan Salwang

I Putu Mardika • Senin, 8 Januari 2024 | 16:02 WIB

Arca Mpu Kuturan di Pura Silayukti, Karangasem
Arca Mpu Kuturan di Pura Silayukti, Karangasem
JEMBRANA EXPRESS-Selain itu Mpu Kuturan juga mendirikan tempat suci di Padang Bai, Karangasem yang bernama Pura Silayukti. Dimana “sila” berarti tingkah laku dan “yukti” berarti benar. Jika diartikan yaitu tingkah laku yang benar, karena di pura inilah Mpu Kuturan mulai memimpin dan mengajarkan tingkah laku yang benar kepada masyarakat Bali.

Suka Ardhiyasa menjelaskan Pura Silayukti didirikan pada abad 11 untuk menghormati kebesaran jasa-jasa Mpu Kuturan di Bali, baik selaku pejabat tinggi pemerintahan pada masa raja Marakata dan raja Anakwungsu, maupun selaku pimpinan agama Hindu di Bali pada zaman Bali Kuna.

Dalam lontar Babad Bendesa Mas disebutkan, bahwa Mpu Kuturan berwisma di Silayukti dan beliau tinggal di sana sampai wafat. Tahun berapa beliau wafat, tidak diketahui dengan pasti. Setelah Mpu Kuturan wafat sekitar abad 11, di tempat wisma beliau, didirikan pura sebagai tempat pemujaannya.

 “Pelinggih yang dibuat hanya bebaturan saja. Pelinggih sederhana itu sampai tahun 1931 saja. Sejak tahun 1931, Pura Silayukti diperbesar dan jumlah pelinggih ditambah. Bebaturan itu kemudian diganti dengan meru tumpang tiga,” jelasnya.

Mpu Kuturan juga membangun Pura Samuan Tiga. Di pura ini terdapat peristiwa yang sangat penting dalam perjalanan sejarah Bali, khususnya yang berkaitan dengan tatanan kehidupan religious masyarakat Bali. Samuan tiga secara etimologi terdiri dari 2 (dua) kata yaitu Samuan yang bermakna Sangkep atau pertemuan, dan tiga menunjuk pada bilangan tiga.

Dengan demikian Samuan Tiga berarti pertemuan segitiga atau pertemuan yang dihadiri oleh tiga unsur kekuatan (kelompok). Pertemuan yang dimaksud adalah bertemunya tiga kelompok besar aliran kepercayaan guna menyatukan visi tentang sistem kepercayaan di Bali.

Pertemuan tersebut dihadiri tiga kelompok besar diantaranya Agama Budha Mahayana diwaikili oleh mpu Kuturan yang juga sebagai ketua atau pimpinan siding. Agama Ciwa diwakili oleh tokoh-tokoh atau pemuka-pemuka Agama Ciwa dari Jawa.

Semenjak itu setiap penganut Ciwa  Budha, diharuskan mendirikan tiga buah bangunan suci  (pura)  sebagai  tempat memuliakan dan memuja Sang Hyang Widhi Wasa  dalam  prabhawa  atau   manifestasi-Nya. Yakni Pura Bale Agung, Pura Puseh dan Pura Dalem.

Selain itu, Mpu Kuturan juga berjasa dalam membangun Pura Sakenan bersamaan dengan pembangunan beberapa pura lainnya pada jaman pemerintahan Raja Cri Macula Maculi. Mengenai asal mula dibangunnya Pura atau Kahyangan Sakenan ini juga disebutkan di dalam Lontar Usana Bali.

Kemudian ketika Danghyang Nirartha  mengadakan  perjalanan keliling  pulau Bali  mengunjungi    tempat-tempat  suci,  beliau  sampai pula  di pulau  Serangan, dan  pada  bagian   Barat pantai   pulau   Serangan ini  beliau    membangun    bangunan    suci  (pura).   

Dikatakan Suka, pura besar lainnya yang dibangun Mpu Kuturan seperti Pura Watu Klotok yang didirikan bertujuan untuk pemujaan Hyang Widhi sebagai tempat memohon agar air danau selalu terlindungi, tidak mengalami kekeringan.

“Jika Danau penuh, maka air akan mengalir melalui sungai-sungai. Dari sungai-sungai itulah sawah dan ladang mendapatkan air. Intinya kesuburan sawah-ladang akan terpelihara. Pura Watu Klotok menjadi sangat penting karena dalam Lontar Purana Besakih menyebutkan pantai Watu Klotok sebagai tempat pesucian Ida Bhatara Besakih,” jelasnya.

Dalam  Lontar Usana  Bali  Mpu  Kuturan, juga membangun Pura Luhur Uluwatu. Kata Uluwatu sendiri secara etimologi berasal dari kata ulu yang berarti kepala/ujung, dan kata watu yang berarti batu, jadi Uluwatu memang benar adanya, karena pura tersebut terletak diujung tebing selatan Pulau Bali.

Atas jasanya Mpu Kuturan juga dibuatkan pelinggih di setiap Sanggah Kawitan di Bali dalam bentuk Pelinggih Menjangan SalwangMenjangan Salwang yang bentuknya panjang ini terdiri dari tiga ruang (rong) yang cukup besar. Rong pertama dan kedua hampir sama lebarnya kira-kira 75 cm.

Dalam rong yang besar yang ditengah, berisi kepala menjangan lengkap dengan tanduknya. Bentuk Menjangan Seluang rupanya memang dimaksudkan untuk menunjukkan adanya tiga kelompok besar masyarakat zaman dulu.

Konon Mpu Kuturan ke Bali menunggangi seekor menjangan. Namun dibalik ungkapan tersebut, Menjangan Salwang dapat diartikan sebagai balai yang panjang dan luas, dimana “Manjangan” berarti panjang, “salu” berarti balai dan “wang” berarti luas. Sehingga kata Manjangan Salwang diartikan  sebagai lambang dari balai yang panjang dan luas, dimana tempat itu digunakan sebagai tempat pertemuan para dewa

Dikatakan Suka Pelinggih Menjangan Salwang atau Sakaluang dipandang sebagai penyatuan pikiran, pendapat, pandangan atau keinginan keluarga. “Jadi sebagai lambang persatuan dan kesatuan, serta kerukunan rumah tangga atau keluarga,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Silayukti #mpu kuturan #lontar usana bali #Menjangan Salwang