Dijelaskan Gusti Anglurah Mangku Kebayan Alitan, para pemedek bebas memilih titik lokasi di areal Pura Dalem Puri untuk menghaturkan sesodaan atau sesajen kepada para leluhurnya saat Ngusabha Pitra.
Setelah menghaturkan sesajen, tidak jarang para pemedek melakukan acara makan Bersama di areal pura. Hal ini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur bahwa para pratisentananya (keturunannya) masih ingat dengan leluhurnya.
Bahkan, ia menyebut tidak jarang jika pemedek yang nangkil selalu mengupayakan titik lokasi yang sama dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, sudah menjadi tradisi mereka memilih titik lokasi tersebut, dengan pertimbangan agar para leluhur mereka tidak bingung mencarinya.
“Kalau ngusabha pitra, dimanapun boleh digunakan untuk titik melakukan persembahan banten sesodaan, baik yang sudah diaben maupun yang belum. Tetapi kalau tidak saat ngusbah pitra, maka yang belum diaben wajib di bagian jaba dibuatkan sarana persembahahan,” katanya.
Hal ini tentu beralasan. Ia menganalogikan, saat ngusabha pitra pintu sekala niskala sudah dibuka sepenuhnya untuk para pitara baik yang sudah bersih (diaben) maupun belum diaben sehingga sepenuhnya bisa masuk.
“Tidak jarang, setelah sembahyang di Pura Dalem Puri, pemedek juga sekalian nangkil ke Pura Besakih, dan Pura Pedarman. Karena memang jaraknya berdekatan,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika