Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Perbandingan Kremasi dan Ngaben dalam Tradisi Hindu di Bali

Putu Agus Adegrantika • Jumat, 19 Januari 2024 | 00:00 WIB
ILUSTRASI NGABEN
ILUSTRASI NGABEN

JEMBRANA EXPRESS – Dalam tradisi Hindu di Bali, khususnya dalam pelaksanaan ngaben, muncul perbandingan dengan praktik kremasi.

Ngaben, suatu upacara yang melibatkan pembakaran, seringkali dianggap mirip dengan kremasi.

Namun, apakah sebenarnya perbedaan antara kremasi dan ngaben?

Menurut I Gusti Ketut Widana, dalam bukunya yang berjudul "Lima Cara Beribadah," kremasi merupakan hasil dari kemajuan zaman, didorong oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dengan dorongan umat yang menginginkan kenyamanan dan efisiensi, dimensi agama tidak dapat terhindarkan dari pengaruh modernisasi.

Modernisasi tersebut lambat laun merambah ke dalam praktik keagamaan.

Kesimpulan dari seminar kesatuan tafsir terhadap aspek-aspek agama Hindu menyatakan bahwa kremasi tidak dapat dibenarkan.

Hal ini disebabkan adanya ketentuan khusus dalam upacara ngaben, seperti penggunaan api praline yang tidak ditemukan dalam kremasi menggunakan strum atau aliran listrik.

Namun, ada pengecualian jika kremasi hanya dilakukan untuk pembakaran mayat demi kemudahan pemindahan jasad ke tempat jauh atau karena alasan kesehatan.

Keputusan ini, meskipun sebelumnya dianggap sebagai standar, kini tidak lagi dapat dipertahankan.

Kenyataannya, tata cara ngaben dengan kremasi dinilai lebih praktis, ekonomis, dan mungkin tidak memerlukan keterlibatan krama adat selain keluarga almarhum.

Meskipun belum sepenuhnya diterima oleh masyarakat Bali, beberapa warga Hindu sudah mulai mengadopsi model kremasi.

Jika kita merujuk pada asal-usul kata "ngaben," cara kremasi dapat dibenarkan.

Hal ini karena ngaben pada dasarnya adalah proses mengembalikan unsur materi Panca Maha Bhuta alit, yakni tubuh, ke Panca Maha Bhuta agung atau alam.

Dengan demikian, perbedaan media yang digunakan dalam ngaben dan kremasi seharusnya tidak dipertentangkan.

Yang terpenting, hakekat dari upacara Pitra Yadnya Ngaben telah terpenuhi untuk kembali ke Sang Sangkan Paraning Dumadi. (*)

Editor : I Putu Suyatra
#ngaben #hindu #tradisi #kremasi #bali