Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Pura Luhur Poten Bromo, Jawa Timur Dibangun Tahun 1991, Pusat Ritual Masyarakat Tengger

I Putu Mardika • Sabtu, 20 Januari 2024 | 00:11 WIB

 

Areal Madya Mandala dengan landscape gunung Bromo
Areal Madya Mandala dengan landscape gunung Bromo
JEMBRANA EXPRESS-Mendengar nama Taman Nasional Bromo tentu tidak lepas dari keberadaan masyarakat Suku Tengger. Suku yang mendiami lereng Bromo yang meliputi empat kawasan seperti Lumajang, Malang, Pasuruan dan Probolinggo ini memang hampir 90 persennya menganut keyakinan Hindu.

Aktifitas ritual dari masyarakat Suku Tengger ini erat kaitannya dengan Pura Luhur Poten Bromo. Pura yang berlokasi di hamparan lautan pasir di Taman nasional Bromo ini menjadi pusat ritual saat Upacara Kasada dilaksanakan.

Butuh perjuangan ntuk menjangkau lokasi ini bisa dilewati melalui kawasan Probolinggo, atau sisi utara Gunung Bromo.Kondisi jalan tergolong bagus dan mulus. Namun hanya menyempit saat memasuki kawasan Bromo, sehingga meski mengurangi laju kendaraan saat berpapasan dengan kendaraan roda empat lainnya.

Meski jalanan menyempit dan tikungan curam, namun akan disuguhkan hamparan kebun sayur milik masyarakat setempat. Jejeran pohon cemara yang tumbuh di kawasan pegunungan kian paripurna melukiskan indahnya sepanjang perjalanan.

Jarak tempuh hampir dua jam dari Probolinggo dengan kendaraan pribadi. Saat kendaraan mulai mendekati kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), penjaga dari pengelola kawasan Taman Nasional Bromo siap memeriksa setiap pengunjung yang datang.

Jika merupakan wisatawan, maka akan dikenakan tiket masuk. Namun, bila hendak melakukan persembahyangan dengan menggunakan pakaian adat sembahyang, maka sudah pasti akan diberikan akses masuk secara gratis.

Karena jalan yang dilalui curam dan kondisi berpasir, maka disarankan untuk menggunakan wahana kendaraan Hard Top atau kendaraan 4 Wheel Drive. Kendaraan ini dengan mudah ditemukan, sebab banyak disewakan oleh masyarakat setempat bagi wisatawan maupun pemedek yang nangkil.

Pemandangan yang indah tersaji di depan mata begitu kendaraan Hard Top melewati jalan menurun yang curam. Lanskap Pegunungan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang membentang puluhan ribu hektar ini memanjakan pandangan wisatawan.

Ratusan wisatawan mulai menyemut memadati areal lautan pasir.  Ada yang sekedar berswafoto, berkuda ada pula yang sengaja mendaki untuk mendapatkan spot terbaik dan menikmati indahnya pemandangan kawah Bromo.

Di tengah luasnya hamparan lautan pasir Bromo yang berwarna hitam pekat ini, terdapat Pura Luhur Poten yang berdiri begitu anggun dan kokoh. Vibrasi spiritual begitu terpancar dari pura yang posisinya di kaki Gunung Bromo ini.

Tiupan angin yang menderu kencang sembari membawa butiran pasir halus beterbangan seolah menjadi salam hangat bagi para pemedek yang melangkahkan kakinya menuju Pura Luhur Poten ini.

Secara struktur, Pura ini memang terbagi menjadi tiga mandala, dengan ukuran yang tegolong beragam. Untuk areal nista mandala, luasnya sekitar 30x 30 meter. Kemudian madya mandala ukurannya 40x40 meter. Sedangkan pada bagian utama mandala ukurannya kian luas yakni 50x50 meter.

Begitu kaki melangkah ke utama mandala, koran ini disambut hangat oleh Romo Mangku Sugiano. Pria berusia 52 tahun ini memang sudah sejak 31 tahun ngayah di Pura Luhur Poten Bromo. Bahkan persis sejak Pura ini mulai dibangun, yaitu pada tahun 1991 silam.

Romo Mangku Sugiano, adalah satu dari enam pemangku yang memang secara bergilir melayani pemedek yang nangkil sembari berwisata ke Bromo. Usai sembahyang dan nganteb sesajen ia pun dengan ramah bercerita tentang perjalanan panjang dibangunnya Pura Luhur Poten Bromo.

Diceritakan Mangku Sugiano, berdirinya pura ini tidak lepas dari peran Pemerintah Provinsi Jatim yang pada tahun 1991 itu Gubernurnya dijabat oleh Suharso. Ia mengdakan pesamuhan dengan tokoh Hindu yang ada di kawasan Tengger meliputi empat wilayah. Yakni Lumajang, Malang, Pasuruan dan Probolinggo

Tekad kian bulat untuk mewujudkan tempat ibadah yang representatif bagi masyarakat Suku Tengger. Hingga akhirnya terbentuklah panitia pembangunan pura. “Jadi pada waktu itu disepakati namanya Pura Luhur Poten Bromo. Poten berasal dari kata putih. Nah proses renovasi itu dapat dana hibah sebesar Rp 1 Miliar. Akhirnya terbentuklah pura dengan konsep tri mandala,” kata Romo Mangku.

Arsitektur pembangunan pura ini pun tetap mengadopsi  karakter Jawa Timur yang kerap disebut Bangunan Brawijaya. Meski demikian, tetap dikombinasikan dengan menggunakan arsitektur Bali.

Ia menceritakan, dipilihnya titik lokasi sebagai tempat berdirinya Pura Luhur Poten Bromo bukanlah tanpa pertimbangan. Karena memang ada Leluhur yang sebelah sini, kabuyutannya Kaki Buyut Pranoto yang sangat dihormati bagi masyarakat Tengger.

“Beliau yang Jumeneng (berstana, Red) disini. Makanya dibentukklah sanggar Poten. Posisinya di sebelah padmasana,” katanya sembari tangannya menujuk sebuah areal yang dibatasi penyengker sebagai stananya Kaki Buyut Pranoto di areal utama mandala.

Di areal Utama Mandala, disebutkan bahwa yang berstana di Padmasana ini diyakini sebagai perwujudan dari Tri Murti. Yakni Dewa Brahma Wisnu dan Dewa Siwa. Selain itu ada pula Pelinggih Panglurah, patung Dewa Brahma dan Dewi Saraswati. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Pura Luhur Poten Bromo #taman nasional bromo #hindu #suku tengger #bromo