JEMBRANA EXPRESS - Dapur umat Hindu di Bali umumnya ditempatkan menghadap ke selatan, mengikuti arah Dewa Brahma yang dipuja di dalamnya.
Menurut Asta Kosala Kosali, pembagian pekarangan rumah, arah barat daya dianggap sebagai tempat pertemuan dua kekuatan Nista.
Oleh karena itu, dapur sering ditempatkan paling dekat dengan pintu masuk rumah, memungkinkan penyucian sebelum memasuki rumah setelah bepergian.
Budayawan Denpasar I Gede Anom Ranuara membagikan pemahaman ini.
Penting untuk diperhatikan bahwa penempatan dapur yang tidak tepat dapat menyebabkan ketidaknyamanan, seperti kepanasan.
Dalam konteks ini, dapur harus memiliki atap sendiri dan tidak digabungkan dengan atap tempat tinggal.
Kesalahan penempatan, seperti menempatkan dapur di arah barat laut dengan rumah tinggal di atasnya, dapat membuat tempat tinggal menjadi tidak harmonis dan terasa panas.
“Maka dapat dipastikan yang tinggal akan selalu kurang nyaman, biasanya kepanasan, jadi hawanya selalu panas,” jelasnya.
Sebagai bagian dari tradisi, pembuatan dapur di Bali harus disertai dengan bungut paon, sebuah konsep terkait dengan Dewa Brahma.
Bungut paon biasanya menghadap ke selatan, dengan lubang di bagian utara.
Ini memungkinkan masyarakat menghadap selatan saat memasak sebagai bentuk penghormatan terhadap Dewa Brahma sebagai Dewa Api.
Penting juga untuk memperhatikan posisi lambang atap, yang harus mengarah dari timur ke barat, sementara bungut paon menghadap dari utara ke selatan.
Selain itu, pembuatan dapur di Bali wajib disertai dengan bungut paon sebagai konsep awal dari munculnya kata Paon.
Hal ini tentu merupakan sebagai tempat berstananya Dewa Brahma.
Konsep ini diwariskan secara turun temurun di masyarakat Bali.
Dalam pola dapur minimalis, kompor sering digunakan sebagai simbol pemujaan, dengan bagian atasnya biasanya dikosongkan untuk menghindari melangkahi dapur.
Dengan memahami aturan dan konsep ini, pembuatan dapur di Bali dapat menciptakan harmoni dalam rumah sesuai dengan tradisi Hindu yang kaya akan makna.