Dijelaskan Jro Penyarikan Duuran Batur, Pujawali di Pura Jati itu tepat jatuh saat penanggal ping 13 sasih kasa atau 2 hari sebelum Purnama Sasih Kasa. Pujawali di pura ini bisa Nyejer (dilaksanakan,Red) selama tiga hari. Pengemponnya dari Desa Adat Batur.
Ada sejumlah refrensi yang menyebutkan jika jenis sesajen yang dipersembahkan, berupa suci asoroh, itik hitam jambul yang sudah pernah bertelur, suci yang lengkap, dan ketupat kelanan, ajuman disertai canang, segahan mapang leb, itik hidup warna hitam dan jambul, ayam hitam. Daksina lengkap dengan santun, sesuai dengan tingkatannya yaitu nista, madya dan utama upacara.
Ukuran tingkatan karya bisa dilihat di antaranya dari jenis uang kepeng yang digunakan. Pada tingkat uatama, uang berjumlah 700, madya 500, nista 425 kepeng. Semua mesti genap, tak hendak dikuranglebihkan.
Dikatakan Jro Penyarikan Duuran Batur jika tidak dilakukan upacara di Pura Jati, maka selama setahun siklus tidak boleh dilakukan pujawali di kawasan Batur. “Karena beliau di Pura Jati tidak katuran Pujawali,” sebutnya.
Lanjutnya, bagi sulinggih (pandita) yang memahami tattwa, maka diyakini beliau pasti nangkil ke Pura jati sebelum memulai melayani umat dan ngeloka pala sraya. “Karena diyakini, beliau adalah Sulinggih Bali pertama,” katanya.
Sementara itu, di sisi selatan Pura Jati terdapat Pura Segara Ulun Danu Batur yang letaknya di tengah danau Batur. Pelinggih inilah merupakan petirtaan Pura Jati. Hanya saja pura Segara Batur yang bertstana adalah Ida Bhatari Dewi Danu. “Kita melakukan danu kerti ya di sini di areal Pura Segara Ulun Danu Batur,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika