Upacara Posa dimaknai sebagai wujud bakti masyarakat Desa Sukawana kepada leluhurnya atau kepada Dewa Pitara. Sebelum mosa berlangsung, masyarakat akan melakukan beberapa prosesi yang dimulai di Pura Dalem Sengkuwuk yang disebut dengan Ngambing
Bendesa Adat Sukawana, Wayan Jasa mengatakan, upacara mosa dilakukan setiap setahun sekali bertepatan dengan rangkaian usaba dalem di Pura Dalem Sengkuwuk. Setelah usaba dalem di sengkuwuk saat hari purnama kalender bali, pada Bulan Januari, itu dilaksanakan terlebih dahulu dengan Usaba Dalem atau Ngambing
Setelah Ngambing, di Pura Dalem Sengkuwuk, maka ketika bertepatan dengan Kliwon, baru dilaksanakan ngampan. Namun sehari sebelum kliwon pada wage dilaksanakan prosesi upacara Nyawen. Upacara Nyawen dilaksanakan di dua titip.
Pertama di perbatasan Desa Sukawana dengan Kintamani, atau Nyawen pesu menek. Kemudian pada hari Kliwon, setelah upacara dilaksakan di Pura Bale Agung, maka dilanjutkan pada malam harinya tradisi nyawen pesu tuwun, yang melewati batas desa sampai sebelah utara Sukawana yaitu Desa Bantang. Besoknya, pada hari Umanis dilanjutkan dengan upacara mosa pada Usaba Dalem.
Puncak Usaba Dalem atau posa (mosa) senantiasa identik dengan tradisi Nundung. Pelaksanannya tepat pada umanis pertama setelah Purnama Kapitu. Perayaan Posa bagi masyarakat Sukawana adalah perayaan bagi para lelihur yang sudah menjadi Dewa Pitara
Khusus Dewa Pitara yang lanang (laki-laki) akan dibuatkan sarana upakara berupa tegen tegenan. Sedangkan untuk Dewa Pitara istri (wanita) akan dibuatkan upakara yang dikenal dengan tembongan. Sebelum kedua sarana upakara persembahan dihaturkan, maka saat itulah prosesi nungdung dilakukan.
“Ini bermakna untuk mengundang, menyambut para loh leluhur, mereka yang diyakini akan hadir saat upacara mosa, setelah datang, baru dibuatkan persembahyangan di tempat pemujaan keluarga masing-masing,” kata Wayan Jaya.
Dikatakan Wayan Jasa, tidak ada yang mengetahui secara pasti, sejak kapan Tradisi nungdung ini mulai dilaksanakan. Ia menyebut, tradisi ini sudah dijalankan secara turun temurun dan dilaksanakan secara tulus ikhlas di Desa Adat Sukawana.
Nungdung jika dilihat dari arti katanya berasal dari kata dungdung. Dungdung berasal dari potongan bambu satu ruas. Jenis bambu yang dgunakan adalah Bambu Tamblang. Jenis bambu ini digunakan karena sangat tipis sehingga menghasilkan suara yang nyaring. Proses membunyikan dungdung inilah disebut dengan nungdung
Pada saat nungdung sebutnya, para leluhur yang disambut akan diiringi dengan nyanyian khusus dengan logat khas mayarakat Sukawana. Nyanyian itu disuarakan saat krama mulai membunyikan dungdung “Memejra, memejra Mebanten sumping keladi, nyen teka nyen teka uli kaja, membunga pucuke gading, napi runtutanane tabuh geng gong warga sari”
Lanjut Wayan Jasa, nyanyian nan singkat saat Nungdung memang sarat makna. Seperti pada lirik Memejra itu secara umum adalah sebutan uacara persembahan yang dilakukan oleh para kaum perempuan menyambut hari raya posa.
Nyen teka nyen teka uli kaja artinya gunung dimaknai jika para leluhur yang datang diykini dari gunung, stana para leluhur. “Pada saat kedatangan leluhur menggunakan bunga pucuk gading, sebagai pengiring perjalanan roh leluhur menuju rumah, dan diiringi dengan lagu yang terakhir, dengan tabuh genggong, atau music niskala dan kekidungan,” katanya. (dik).
Editor : I Putu Mardika