Keberadaan ular suci atau yang biasa disebut dengan lelipi Poleng karena memiliki warna lorek hitam-putih. Secara famili, ular ini masuk ke jenis ular laut Banded Sea Krait. Lelipi Poleng ini bisa tiga kali lipat mematikan dari kobra karena bisa menghabisi musuhnya dalam satu kali patokan.
Jika dilihat, lelipi Poleng adalah hewan agresif yang tidak akan menyerang dahulu sebelum diserang oleh lawannya. Makanya, para wisatawan yang datang dan ingin mengelus lelipi Poleng harus diawasi oleh si pawang ular agar tak salah dalam bertindak, lelipi Poleng yang dianggap suci ini memiliki tubuh panjang dengan warna belang hitam-putih dan kadang abu-putih serta ekornya pipih, bukan tumpul memanjang.
“Berdasarkan legenda, ular tersebut adalah bekas selendang Danghyang Nirartha yang dikutuk menjadi ular poleng dan bertugas untuk menjaga alam dan kesucian Pura Tanah Lot,” kata Mangku Darma
Berdasarkan legenda, ketika lelipi poleng berada melelit atau membentang di tangga candi bentar ini berarti di Jeroan Pura sampun mesineb (tutup) siapapun tidak diijinkan masuk ke jeroan, termasuk Jro Mangku.
Apabila Jro Mangku berada didalam jeroan itu berarti Jro Mangku disarankan untuk mekemit di Jeroan Pura. Hal ini merupakan cara lelipi poleng untuk menjaga kesucian Pura Tanah Lot dengan memberikan berbagai isyarat yang dipercaya oleh masyarakat sebagai bentuk peringatan.
Hal-hal seperti ini masih dipercayai dan ditaati oleh masyarakat khususnya pengempon Pura Tanah Lot. Ketaatan ini jugalah yang ikut serta menjaga kesucian pura. Lelipi Poleng ini pada dasarnya jauh lebih mematikan daripada ular kobra, tetapi anehnya lelipi Poleng diam saja dan tidak berkutik saat para pengunjung menyentuhnya.
Menariknya siapa saja yang menyentuh lelipi Poleng sambil berdoa maka bisa terkabul keinginannya. Entah itu meminta lancar rezeki, punya anak, atau hidup makmur.
Di sisi lain, keunikan lainnya adalah tidak pernah ditemukan telur-telur ular-ular suci di gua tempat ular-ular suci ini, masih belum jelas dimana ular suci ini berkembang biak. Ketika air laut pasang dan merendam sarangnya para ular-ular suci tersebut satupun tidak ada di dalam gua.
“Ular suci kembali ke laut disaat air laut pasang dan akan kembali ke gua disaat air laut surut, fenomena tersebut memang normal dilakukan oleh ular suci,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika