Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Memahami Konsep Hindu Bali dalam Membangun Dapur dan Posisi Pelangkiran

I Putu Suyatra • Jumat, 26 Januari 2024 | 15:18 WIB
Plangkiran di daput umat Hindu di Bali
Plangkiran di daput umat Hindu di Bali

JEMBRANA EXPRESS - Dalam tradisi Hindu Bali, dapur memiliki peran penting sebagai tempat pengolahan bahan makanan untuk kepentingan sehari-hari manusia serta upacara keagamaan.

Namun, pentingnya memperhatikan posisi Pelangkiran juga merupakan aspek yang tidak boleh diabaikan.

Menurut konsep Hindu Bali, dapur harus dibangun di wilayah hilir atau teben, sesuai dengan konsep pembagian wilayah pekarangan menjadi teben, madya, dan utama.

Kesalahan penempatan, terutama dengan adanya bangunan tambahan, dapat berdampak negatif terhadap penghuni.

Proses pembangunan dapur harus mempertimbangkan efek sekala dan niskala yang ditimbulkan, termasuk posisi Pelangkiran yang dipasang.

Kajian dari Pasraman Sastra Kencana menekankan bahwa pembangunan dapur terkait erat dengan tiga unsur penting: api, air, dan angin.

Guru Nabe Jro Budiarsa, pendiri Pasraman Sastra Kencana, menjelaskan bahwa ketiga unsur ini merupakan Tri Amerta, panugerahan Sanghyang Tiga yang ada di Kemulan.

Api dan air adalah unsur yang bersebrangan dan berlawanan yang hanya dapat dikendalikan oleh kekuatan Siwa, yang mampu menetralisasi sifat-sifat energi alam.

"Kedua energi api dan air ini hanya bisa dikendalikan oleh kekuatan Siwa, karena hanya kekuatan Siwa yang mampu menetralisasi semua sifat-sifat energi alam," paparnya beberapa waktu lalu di Jembrana.

Pentingnya sinergi dengan kekuatan Siwa dalam setiap aktivitas di dapur ditekankan, agar manusia dapat menjalankan semua kegiatan dengan baik dan aman.

Dari segi filsafat dan filosofi sastra, konsep Siwa dan kata Perbuatan menggarisbawahi bahwa Sang Hyang Siwa Karma berstana di Pelangkiran dapur.

Dalam pandangan ini, Pelangkiran dapur menjadi tempat Sang Hyang Siwa Karma yang memberikan restu dan izin untuk setiap perbuatan manusia di dapur.

Hal ini terwujud melalui penggunaan tiga unsur Tri Amerta, yaitu api, air, dan angin, yang harus diakui dan dihormati oleh manusia.

Dari sudut pandang filosofi, unsur-unsur ini memberikan warna, dengan api sebagai perwujudan Dewa Brahma, air sebagai perwujudan Dewa Wisnu, dan angin sebagai perwujudan Dewa Iswara atau Siwa.

Oleh karena itu, Pelangkiran dapur diarahkan ke barat sebagai simbolisasi posisi masing-masing dewa, dengan harapan bahwa satu kekuatan berkuasa atas segala aktivitas di dapur.

Dalam praktiknya, upacara persembahan dapat dilakukan pada berbagai tingkatan, mulai dari Punjung Rayunan hingga Pras Pajati, Ketipat Nasi, atau Ketipat Sari.

Setiap persembahan memiliki tujuan memohon amerta atau sumber kehidupan yang diperlukan untuk jasmani, sejalan dengan panugerahan Sanghyang Tri Amerta.

Pelangkiran dapur tidak hanya menjadi tempat untuk persembahan, tetapi juga tempat memohon penetralisasi dari unsur 'pakan kinum' untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan pada makanan.

Dengan harapan, segala makanan dan minuman yang dikonsumsi memberikan kenikmatan dan kesehatan jasmani serta rohani. (*) 

Editor : I Putu Suyatra
#hindu #dapur #pelangkiran #bali