Tokoh Catur Desa Adat Tamblingan, Jro Putu Ardana mengatakan Catur Desa Adat yang terdiri dari Desa Gobleg, Munduk, Gesing dan Umejero memang diikat oleh unsur air yang ada di Danau Tamblingan sebagai pemersatu.
Berdasarkan catatan sejarah, pemerintahan Catur Desa dipusatkan di Gobleg. Pemimpinnya adalah Pengrajeg Adat Dalem Tamblingan dan sifatnya turun temurun. Eksistensi masyarakat adat Dalem Tamblingan sudah tercatat pada tahun 900-1100 Masehi. Tepatnya pada Prasasasti Suradipa, Udayana dan Ugrasena. tahunnya sekitar 900 masehi. Tetapi dari situs yang ada, eksistensi Catur Desa malah jauh lebih tua dari angka tahun yang disebutkan.
Dalam prasasti juga disebutkan jika dulu masyarakat bermukim di sekitar Danau Tamblingan dan alas (hutan) Merta Jati. Kemudian sekitar abad ke 13, masyarakat memutuskan untuk pindah dan menyebar ke bawah yang kini disebut Catur Desa.
“Alasannya pindahnya sederhana. Yaitu untuk mensucikan Danau Tamblingan. Hutannya disebut Merta Jati atau sumber hidup sesungguhnya. Jadi untuk hidup, desa adat tidak mau mengutak-atik sumber mata airnya, melainkan hanya cukup memanfaatkan rembesannya saja,” jelasnya.
Keimanan masyarakat Catur Desa Adat Tamblingan sebut Jro Ardana adalah Piagem Game Tirta atau memuliakan air. Pertimbangannya, karena masyarakat hidup dari sektor agraris dan memanfaatkan rembesan air danau.
Sebagai bentuk syukur atas keberlimpahan air, krama Catur Desa menggelar ritual Alilitan Karya. Ritual ini dilaksanakan setiap dua tahun sekali. Hanya saja, prosesinya sangat panjang. Sebab, dilaksanakan berdasarkan perhitungan sasih dari Tilem Kasa sampai Purnama Kelima.Ritual inipun telah dilakukan secara turun temurun sejak ratusan tahun silam.
Jro Ardana menceritakan, Alilitan Karya dimulai pada Tilem Sasih Kasa yang diawali dengan Karya Dalu bermakna sebagai pembersihan. Dimana, yang dibersihkan adalah pertiwi. Ritual ini dipusatkan di sebuah sumber mata air, di kawasan Cangkub, tepatnya di perbatasan antara desa Gesing dan Munduk.
“Pada saat Tilem Kasa, diumpakan masyarakat ada dalam kegelapan. Yang dimaksud kegelapan artinya kemiskinan, kebodohan. Selanjutnya kami harus melakukan sesuatu. Sepakatlah melakukan sesuatu untuk menuju kesejhateraan,” bebernya.
Lima belas hari kemudian, tepatnya pada purnama Sasih Karo krama melaksanakan Bongkol Karya atau membersihkan dasar bumi atau sapta patala, sekaligus mulang dasar kamertaan. Ritual ini dilaksanakan di sebuah mata air di perbatasan desa Munduk dan Gobleg.
Setelah pertiwi dan dasar bumi dibersihkan, barulah masing-masing krama harus membersihkan diri di pura dadianya masing-masing. Yaitu bertepatan di Purnama ketiga. Selanjutnya Purnama Sasih Kapat melaksanakan Karya Pangrakih di daerah hulu. Tepatnya di Danau Tamblingan dan Alas Merta Jati. “Karena sumber merta kami disana. Sambil membersihkan hulu, sambil nunas merta di Luhuring Capah,” imbuhnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika