Dikatakan Nyoman Suka Ardiyasa, Durmangala dalam Lontar Roga Sanghara Bhumi merupakan tanda-tanda alamat tidak baik yang diberikan oleh Sanghyang Druwaresi yaitu Dewa yang berstana di atas langit sebagai pertanda bahwa mala petaka akan segera datang. Lontar Roga Sangara Bumi juga menjelaskan ciri-ciri atau tanda-tanda alam yang bermuara akan terjadi sesuatu yang tidak baik.
Misalnya, ada binatang kijang, menjangan, berlari-lari masuk ke desa, masuk ke rumahrumah berkeliling. Ini pertanda buruk bahwa desa itu katadah kala (dimakan bhutakala). Para satwa itu diperintahkan oleh para dewa karena desa itu kotor, tidak ada rohnya bagaikan hutan belantara. Untuk mengantisipasi hal itu, penduduk harus segera membuat upacara selamatan.
Kahyangan (tempat pemujaan) ditimpa pohon, terbakar, diterjang angin puyuh, apalagi saat melaksanakan upacara yadnya. Ini pertanda buruk dan akan terjadi bencana yang lebih dahsyat. Masyarakat harus segera membuat upacara prayascita (penyucian).
Bila ada anjing melolong-lolong di jalan raya, burung gagak bersuara di malam hari, burung hantu bertarung dengan burung hantu. Ini pertanda masyarakat akan tertimpa wabah penyakit mematikan. Untuk menetralisir akibat dari tanda-tanda itu, masyarakat harus segera melakukan upacara selamatan.
Begitu juga hewan piaraan manusia seperti sapi, kerbau, kambing, terjadi salah pasangan. Artinya terjadi perkawinan bukan sesama hewan sejenis, umpama: sapi kawin dengan kerbau, ayam dengan itik, anjing dengan babi, dan sebagainya.
Hal salah pasangan juga dapat terjadi pada diri manusia. Paman kawin dengan kemenakan, ayah dengan anak, saudara kawin dengan saudara. Ini pertanda bhutakala telah merasuk ke tubuh manusia. Ini harus segera dinetralisir dengan upacara penyucian jagat agar bhutakala kembali ke alamnya.
Ada orang melahirkan dengan wujud yang tidak normal atau aneh, pohon kelapa di halaman disambar petir, pintu gerbang juga disambar petir. “Semua tanda-tanda ini menandakan dunia telah kotor dan rusak. Untuk menetralisir segera dibuatkan upacara selamatan,” katanya.
Apabila terjadi bencana alam secara insidental, dan masyarakat Bali menginginkan kerahayuan jagat, maka dalam Lontar Roga Sanghara Bumi disebutkan ada beberapa jenis upacara keselamatan yang dapat dilakukan.
Seperti Upacara Prayascita, yang merupakan upacara penyucian bumi pada tatanan yang kecil seperti bangunan pribadi, kebun, dan sebagainya. Ada pula upacara Guru Piduka, yaitu upacara permohonan maaf kepada para dewa karena ulah manusia bumi menjadi kotor (cemer). “Bisa juga dengan Labuh Gentuh, yaitu upacara penyucian bumi yang tingkatnya lebih tinggi dari prayascita,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika