JEMBRANA EXPRESS - Bali, destinasi magis yang selalu mempesona, tidak hanya terkenal dengan keindahan alamnya, tetapi juga menyimpan rahasia spiritual yang menakjubkan.
Salah satu perayaan paling misterius dan mendalam adalah "Melukat," sebuah upacara pembersihan pikiran dan jiwa yang telah menjadi warisan turun-temurun bagi umat Hindu di pulau ini.
Menurut Jro Panca, narasumber dalam Kanal Youtube Taksu Poleng, melukat bukan hanya sekadar ritual, melainkan kegiatan yang mampu membersihkan diri secara rohani.
Di pulau Bali, terdapat berbagai tempat melukat yang menarik untuk dikunjungi. Jro Panca menjelaskan secara garis besar ada tiga tempat utama untuk melukat.
Pertama, melukat di palinggih atau kemulan, dengan cara nunas tirta atau air suci pada sumber mata air, yang kemudian dibawa ke rumah untuk melukat.
Kedua, melukat dengan bantuan orang yang mumpumi. Ketiga, melukat langsung pada sumber-sumber mata air.
Lebih lanjut, Jro Panca menyoroti kekuatan unik dari setiap sumber mata air.
Faktor ini dipengaruhi oleh kebiasaan orang suci zaman dahulu, seperti Nyurya Sewana, yang selalu mendoakan sumber mata air sebelum melakukan ritual melukat.
Berbeda dengan praktik sekarang, di mana para pengunjung tempat penglukatan lebih cenderung meminta berkah.
Menurut Jro Panca, perbedaan ini memberi kekuatan luar biasa pada tempat-tempat melukat yang pernah didatangi oleh orang suci dahulu.
Melukat tidak hanya dianggap sebagai pembersihan rohani, tetapi juga dipercayai memiliki kemampuan menyembuhkan berbagai jenis penyakit, baik secara fisik maupun metafisik.
Meski tingkat kesembuhan setiap orang dapat berbeda saat melukat di suatu tempat, Jro Panca menyatakan bahwa hal ini berkaitan dengan hubungan spiritual dengan leluhur.
Sebagai contoh, jika leluhur pernah sembuh setelah melukat di suatu tempat, kemungkinan kita atau reinkarnasinya juga akan merasakan kesembuhan serupa jika melukat di lokasi yang sama.
"Melukat yang benar adalah mengambil inti dari air itu," tambahnya.
Proses melukat secara sekala dan niskala yang benar, menurut Jro Panca, dimulai dengan meminta izin kepada pangempon dan mengikuti aturan yang berlaku di tempat penglukatan.
Meskipun terdapat Jro Mangku, pembersihan sebaiknya dilakukan sendiri karena tidak dapat diwakilkan.
"Agar inti dari energi itu dapat diperoleh, sebaiknya melukat dilakukan sendiri sehingga energi sefrekuensi didapatkan, ini dapat dilakukan dengan doa," tutupnya.
Dengan tradisi yang terjaga dan pemahaman yang mendalam, melukat tetap menjadi bagian integral dari warisan budaya spiritual di Bali. (*)
Editor : I Putu Suyatra