Selama periode kepemilikan Arca Lingga Yoni tersebut, Made Suyasa selalu merasa tertimpa masalah dan keberuntungan yang buruk.
Ia kemudian berjanji, bahwa jika sial yang menimpanya hilang, ia akan mengembalikan Arca tersebut ke Pura Desa Pakraman Bengkala, yang terletak di Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali.
Proses pengembalian Arca Lingga Yoni berlangsung pada hari Sabtu, tanggal 22 Juli 2017, yang disaksikan oleh Prajuru Desa Adat Bengkala.
Dikutip dari Bali Express, setelah melewati serangkaian prosesi upacara di depan Pura Desa Bengkala, Arca yang sebelumnya diletakkan di dalam sokasi tersebut langsung ditempatkan di Pelinggih Paruman, yang terletak di sisi timur Jeroan Pura.
Kisah awal kepemilikan Arca Lingga Yoni, yang merupakan simbol Siwa-Parwati, bermula pada tahun 2010.
Saat itu, Made Suyasa baru saja menjabat sebagai Camat Buleleng.
Saat sedang membersihkan tanah yang baru saja dibelinya, Made Suyasa secara tidak sengaja menemukan sebuah batu yang diduga sebagai arca yoni.
Setelah itu, dalam jarak lima meter dari penemuan yoni, ia menemukan sebuah batu lain yang diyakini sebagai arca lingga.
Batu lingga yoni tersebut kemudian dibawa pulang dan diletakkan di bawah pelinggih surya di rumahnya.
Pada tahun pertama kepemilikannya, Arca Lingga Yoni tidak menunjukkan gejala yang aneh atau membawa sinyal kesialan.
Namun, karena kepercayaannya sebagai seorang penekun spiritual, Made Suyasa menggunakan Arca tersebut untuk kegiatan spiritual seperti nerang ketika Wakil Presiden RI, Boediono, melakukan kunjungan ke Desa Sudaji pada Mei 2010.
Namun, seiring berjalannya waktu, Made Suyasa mulai mengalami penurunan dari sisi ekonomi.
Meskipun ia memiliki pekerjaan tetap sebagai seorang birokrat, namun ia sering mengalami kerugian dalam pekerjaan sampingannya sebagai pedagang tanah.
Kesialan semakin bertambah ketika Made Suyasa mendapat promosi jabatan sebagai Kepala Badan Kesbang Pol Linmas Buleleng pada awal tahun 2012, namun jabatan tersebut tidak berlangsung lama.
Hanya beberapa bulan kemudian, ia dicopot dari jabatannya dan ditugaskan di salah satu SMK Negeri di Sawan.
Keadaan semakin buruk ketika pada Oktober 2012, Made Suyasa terlibat dalam kecelakaan yang mengakibatkan kematian seorang pengendara motor, dan ia pun terlibat dalam masalah hukum.
Karena kesulitan finansial yang dialaminya, Made Suyasa mencoba untuk menjual asetnya, namun upayanya itu tidak membuahkan hasil.
Bahkan, beberapa kesepakatan penjualan aset yang hampir tercapai, akhirnya batal.
Dalam situasi yang sulit tersebut, banyak pihak yang menyarankan agar Made Suyasa mencari bantuan dari orang yang memiliki pengetahuan spiritual.
Setelah berkonsultasi dengan beberapa penekun spiritual, semua menyarankan agar Arca Lingga Yoni tersebut dikembalikan.
Dengan ragu dan khawatir, Made Suyasa akhirnya mengembalikan Arca tersebut setelah bernazar bahwa jika rumahnya di wilayah Banyuning laku, ia akan mengembalikan Arca tersebut.
Setelah rumahnya berhasil terjual dan ia kembali mendapatkan jabatan tetap sebagai Sekretaris Dinas Pusipda Buleleng, Made Suyasa mengembalikan Arca Lingga Yoni tersebut.
Langkah ini disambut positif oleh para Prajuru Desa Pakraman Bengkala yang menganggap Arca tersebut sebagai bagian penting dari sejarah desa.
Arca tersebut sementara disimpan di Pura Desa Bengkala, menunggu keputusan dari Prajuru Adat mengenai tempat permanennya. (*)