Dalam lontar Aji Janantaka diuraikan jika kayu Cendana memiliki daya magis karena kayu ini memohon agar diberikan anugerah berupa tirta panglukatan pamarisudaning dasa mala kepada Bhatara Dharma.
Permohonan itu kemudian ditanggapi oleh Bhatara Dharma. Dengan catatan, pohon bunga harum dan sebangsanya bila belum dibersihkan maka belum bisa menghisap sari. Setelah matirta pamarisudha Bhatara Dharma sudah mengijinkan untuk mengisap sari.
Diuraikan juga Taru cendana masuk dalam wangsa Brahmana Kemenuh, sebagai Wisesa (sakti) diantara semua pohon dan sebagai Dewaning Dewa diantara pohon. Sedangkan Pohon cempaka wangsanya Brahmana Keniten, taru Majagau wangsanya Brahmana Manuaba dan pohon cempaka kuning wangsanya Daha Mulih Kawitan, buni sari, naga sari, tunjung, sandat, piling, itu wangsanya Brahmana Emas.
Hal ini dipertegas dalam Lontar Aji Janantaka, lembar 6b. ih taru cem, sira brahmana Kaniten. Ih taru Majagawu sira brahmana Manuaba mwang I taru campaka kuning, daha mulih, kwanitan, bunisari, nagasari, tanjung, sandat, piling. Ika wangsa Brahmana Emas. Kita taru caru ring kali-asem, waru rot. Ika Bhrahmana Andapan. Malih icempaka putih, Brahmana Pasisira, apan sira pageh ing yasa. Sira kabeh yoga sakalwir ing wawangunan, mangadegang maka priyangan dewa. Ika wenang ingangge. Mangkana ling Bhatara Dharma ring itaru masekar mrik. Ken saking irika apan makweh sira mawisesa, mwang utama. Sekancane sira wus si
Terjemahannya: Ih pohon cem wangsanya Brhmana Kaniten.Ih taru majagawu wangsanya Brahmana Manuaba dan pohon cempaka kuning, daha mulih, kwanitan, bunisari, nagasari, tanjung, sandat, piling itu wangsanya Brahmana Emas. Kalian pohon ceroring, kaliasem, waru rot, kalian wangsa Brahmana Andapan. dan cempaka putih wangsa Brahmana Pasisira, karena kalian teguh dalam mayasa atau menjalankan yasa kerti atau kewajiban. Kalian bisa digunakan disegala bangunan dan sebagai parhyangan dewa. mereka dapat digunakan begitulah sabda Bhatara Dharma kepada seluruh pohon yang menghasilkan seluruh bunga yang harum.
Ida Pedanda Istri Anom Kemenuh, 83 dari Geria Panaraga Patemon, Kecamatan Seririt mengatakan karena mendapat penganugrahan tirta pamarisudaning dasa mala membuat Kayu Cendana menjadi suci, sehingga kerap dijadikan sarana bangunan suci pelinggih dan pratima.
Kayu cendana dipercaya memiliki kekuatan magis karena merupakan pragan atau perwujudan Bhatara Parama Siwa. Selain itu masuk golongan tumbuhan mrik atau harum yang harumnya dapat menembus sampai suarga loka.
Cendana sebagai simbol dari Parama Siwa juga diungkapkan dalam Lontar Usana Bali. Sedangkan dalam Lontar Kosala-Kosali terkait dengan pembuatan bangunan suci Kayu Cendana dinyatakan sebagai kayu prabu.
“Kayu cendana menurut lontar Aji Janantaka merupakan kayu wisesa yaitu kayu sakti diantara semua pohon dan sudah mendapatkan panglukatan dari Bhatara Dharma yang memiliki fungsi sebagai bahan pembuatan bangunan suci pelinggih dan pratima,” jelasnya.
Dalam Lontar Aji Janantaka yang menyebutkan kayu cendana digunakan sebagai bangunan suci (parahyangan) dan pratima dijelaskan pada kutipan lontar:
Malih yan mangawe arca, pratima, pralingga ing Bhatara, aywa nisosin ring taru candana mwang sawangsania kabeh, majegawu, jempaka putih, jempaka kuning. Kalingannia candana pragan Ida Bhatara Prama-Siwa. Majagawu Sada-Siwa. Campaka putih pragan Siwa. Ika nga. Siwa-tiga nga.
Terjemahannya “Bila digunakan untuk membuat arca, pratima, pelinggih Ida Bhatara jangan sesekali mengganti kayu cendana, majagawu, cempaka putih,cempaka kuning, karena pohon cendana merupakan peragan Ida Bhatara Parama Siwa, majagawu Sada Siwa, cempaka putih peragan Siwa itu yang disebut dengan siwa tiga sebagai pengurip semua pohon,”
Ida Pranda Istri Anom Kemenuh menambahkan, karena banyak manfaatnya, membuat kayu ini menjadi langka, sehingga hanya digunakan sedikit saja sebagai simbol. Dalam pembuatan pratima penggunaan cendana digunakan seluruhnya untuk diukir dan dibentuk sedemikian rupa agar menyerupai wujud Dewa karena pratima merupakan perwujudan jasmani dari Dewa.
Kayu cendana dipandang mempunyai nilai-nilai kesucian yang tinggi sehingga sering digunakan sebagai simbol nyasa Tuhan yaitu pelinggih dan pratima. Kayu cendana sudah mendapatkan restu dari Bhatara Dharma untuk dijadikan sebagai bangunan suci (parahyangan) dan pratima.
“Kayu ini juga dipandang mempunyai daya-daya tertentu bagi penggunanya. Aura kesucian yang dimiliki membuat Dewa Dewi berkenan berstana sesuai dengan bentuk-bentuk yang dibuat,” katanya. (dik)
Editor : I Putu Mardika