Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Motif Kain Geringsing Wayang Kebo dibagi Tri Mandala, Gunakan Pewarna Alami

I Putu Mardika • Sabtu, 10 Februari 2024 | 04:22 WIB

Kain Tenun Gringsing Wayang Kebo
Kain Tenun Gringsing Wayang Kebo
JEMBRANA EXPRESS-Motif kain tenun Gringsing Wayang Kebo di Desa Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem tidak lepas dari makna yang diyakini Masyarakat Tenganan Pegringsingan. Motif yang rumit serta membutuhkan waktu yang Panjang, membuat kain ini menjadi harta bernilai ekonomi yang tinggi bagi Masyarakat Tenganan.

Kelian Adat Tenganan Pegringsingan, Putu Yudiana mengatakan Kain Tenun Gringsing Wayang kebo merupakan salah satu motif dari banyaknya motif kain tenun gringsing yang diproduksi oleh pengrajin tenun.

Motif kain tenun gringsing wayang kebo memiliki motif yang lebih rumit namun dengan komposisi bentuk dan warna yang dapat dikatakan sempurna. Tidak hanya dari segi motif, dari segi proses pembuatan juga dapat dikatakan cukup rumit.

Kain tenun gringsing wayang kebo bagi masyarakat desa Tenganan Pegringsingan bersifat sakral. Ukurannya sekitar 60 x 200 cm yang difungsikan sebagai kalung atau perhiasan, sehingga hanya boleh digunakan oleh para perempuan.

Salah satu motif yang tersusun dalam kain Tenun Gringsing Wayang Kebo adalah motif wayang Bali laki-laki dan perempuan yang merupakan lambang dari kehidupan masyarakat desa Tenganan Pegringsingan, karena itu dinamakan Wayang Kebo.

Selain itu, juga karena sesuai dengan nama salah satu ritual yaitu Nyandang Kebo. Pada ritual tersebut kain tenun gringsing wayang kebo digunakan oleh para penari tari Rejang, yaitu para perempuan (gadis).

“Secara teknis, kain tenun gringsing wayang kebo terdiri atas tiga warna, yaitu kuning, merah, dan biru. Namun secara visual, hanya terdapat dua warna yaitu hitam dan kuning kemerahan,” kata Kelian Putu Yudiana.

Dalam produksi Kain tenun Gringsing Wayang Kebo, motif kain dibagi berdasarkan konsep Tri Mandala, yang terdiri atas tiga bagian, yaitu pola utama, pola madya atau tengah, dan pola nista atau tepi

Pola utama pada kain tenun Gringsing Wayang Kebo tersusun atas beberapa motif, yaitu motif tanda plus, motif swastika, motif bunga atau pura, motif benteng atau bangunan, dan motif kalajengking atau pura.

Pola tengah tersusun atas motif tanda plus (+), motif bunga atau atap pura, motif meru atau gunung, dan motif wayang. Motif pada pola tengah tersusun secara repitisi yang membentuk sebuah pola yang bersifat harmonis.

Susunan motif pada pola tengah menggambarkan kepercayaan masyarakat Tenganan Pegringsingan terhadap Dewa Indra. “Selain itu juga menggambarkan kehidupan masyarakat Tenganan Pegringsingan yang tidak mengenal kasta, laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama, hal ini dibuktikan adanya figur wayang putra dan putri,” ungkapnya.

Kemudian pola tepi atau pola ujung tersusun atas dua motif, yaitu motif tanda plus dan motif matahari. Motif ini menggambarkan keindahan langit di desa Tenganan Pegringsingan, hal ini sesuai dengan cerita rakyat yang tersebar dan diyakini oleh masyarakat desa Tenganan Pegringsingan tentang asal usul tenun Gringsing.

Disinggung tingkat kerumitan dalam proses produksi, Yudiana menyebut jika teknik pembuatan yang cukup rumit yaitu dengan menggunakan teknik dobel ikat. Teknik ini merupakan teknik yang paling rumit di antara teknik menenun yang lainnya. Peralatan yang digunakan juga masih sangat sederhana.

Masyarakat Tenganan Pegringsingan masih membuat sendiri peralatan untuk menenun dari kayu yang diambil dari hutan kawasan Tenganan Pegringsingan. Selain dari alat, bahan yang digunakan juga masih sangat alami.

Benang yang dipakai adalah benang dari kapas keling yang tumbuh di kawasan Nusa penida, para penenun mengolah sendiri kapas yang akan digunakan sebagai benang. Sehingga prosesnya sangat tradisional.

Pewarna yang digunakan berasal dari bahan alam, seperti akar mengkudu untuk pembuatan warna merah, warna putih dari minyak kemiri, dan daun tarum untuk warna biru. Keterbatasan akar mengkudu membuat para perajin tenun di Tenganan Pegringsingan mengalami kemunduran proses produksi, sehingga harus mencari hingga Nusa Penida. Pewarnaan warna biru hanya boleh dilakukan di desa Bugbug.

“Bahan yang sangat alami dan ramah lingkungan, mengajarkan tentang kesabaran, keterampilan, keuletan dan juga ketelatenan. Semua alat dan bahan berasal dari alam, masyarakat meyakini bahwa sesungguhnya alamlah yang memberikan kehidupan bagi manusia. Sehingga kain gringsing wayang kebo sarat akan makna dan ajaran hidup,” sebutnya.

Bagian paling rumit dalam proses pembuatan kain tenun Gringsing Wayang Kebo adalah pada bagian pembuatan pola atau motif kain. Kerumitan terlihat adalah pada saat proses pengikatan dan penenunan.

Penenunan dikatakan rumit karena selain masih menggunakan peralatan manual, penenun juga harus teliti dalam menyusun motifnya. Sehingga teknik pembuatannya memakan waktu cukup lama, bahkan hingga mencapai lima tahun

Kerumitan dalam proses pembuatan juga menjadi nilai tersendiri bagi kain tenun Gringsing Wayang kebo. Karena terbuat dari kapas keling yang dipintal sendiri secara manual, tekstur kain tenun Gringsing Wayang Kebo yang baru saja selesai ditenun terkesan kasar dan jarang (renggang).

“Namun uniknya, setelah beberapa kali pemakaian dan pencucian teksturnya menjadi sangat lembut,” imbuhnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Motif #Desa Adat Tenganan #Tri Mandala #wayang kebo #Gringsing