Dikatakan Putu Yudiana, Warna merah melambangkan unsur api, warna kuning/putih melambangkan unsur udara, dan warna hitam/biru tua melambangkan air. Ketika salah satu dari ketiga unsur tersebut terganggu, maka kehidupan manusia pun juga terganggu.
Hal ini berarti bahwa manusia tidak dapat lepas dari alam sekitar. Dari kepercayaan tersebut maka lahirlah konsep jika kehidupan manusia itu ada karena diciptakan, kemudian kehidupan tersebut dipelihara, dan mati dilebur.
Kepercayaan akan dewa sebagai simbol warna kemudian menjadi keyakinan bahwa tenun yang dibuat secara turun temurun akan menyelamatkan mereka setelah kematian
Ia menambahkan, Secara filosofis, tanda tambah atau tapak dara sendiri adalah penolak bala. Simbol ini sangat dijaga oleh masyarakat Tenganan Pegringsingan. Selain itu juga berarti empat arah mata angin, yaitu Timur, Barat, Selatan, dan Utara.
Dalam kehidupannya, masyarakat Tenganan Pegringsingan membangun empat pintu masuk desa yang disebut dengan Lawangan Agung. Lawangan Agung memiliki fungsi yang bernama jaga satru yang artinya adalah menjaga dari musuh.
“Maksudnya menjaga keamanan, kenyamanan, dan keutuhan adat masyarakat desa Tenganan Pegringsingan dari pengaruh luar,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika