Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Pura Pajinengan Gunung Tap Sai,  Jadi tempat Metapa, Sering Muncul Sinar hingga Suara Auman Macan  

I Putu Mardika • Minggu, 11 Februari 2024 | 17:54 WIB

 

Pura Tap Sai, di Dusun Puragai, Desa Pempatan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem.
Pura Tap Sai, di Dusun Puragai, Desa Pempatan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem.
JEMBRANA EXPRESS-Pura Pajinengan Gunung Tap Sai atau yang biasa disebut Pura Tap Sai menjadi salah satu Pura Kahyangan Jagat yang ramai dikunjungi umat Hindu. Di Pura ini berstana tiga dewi, yakni Dewi Sri, Dewi Laksmi dan Dewi Saraswati.

Menariknya, pura ini memiliki tiga tegak piodalan, yakni Buda Cemeng Klawu merupakan pujawali Bhatari Rambut Sedana, Hari Sukra Umanis Klawu untuk pujawali Bhatara Sri dan Saniscara Umanis Wuku Watugunung untuk piodalan Sang Hyang Aji Saraswati.

Secara administratif, Pura Pajinengan Gunung Tap Sai berlokasi di Dusun Puragai, Desa Pempatan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem. Pura Tap Sai terletak di lereng barat laut Gunung Agung, ketinggian 1400 meter dari permukaan laut.

Pura ini bisa diakses dengan menggunakan berbagai moda transportasi. Baik kendaraan roda dua maupun roda empat. Jarak termpuhnya sekitar 52 kilometer dari Kota Amlapura, Karangasem.

Posisinya yang berada di areal perbukitan membuat Kawasan pura ini sangat sejuk, tenang dan hening. Vibrasi spiritualnya begitu terasa. Tidak mengherankan jika pura ini menjadi tempat metapa atau bersemedi.

Berdasarkan Lontar Kuntara Bhuana Bangsul, disebutkan Pura Tapsai adalah pura yang terletak di Kawasan lereng Gunung Toh Langkir atau Gunung Agung, tepatnya di puncak bukit Jineng. Dalam lontar juga dijelaskan, ada tiga dewi yang berstana yakni Dewi Saraswati, Dewi Sri dan Dewi Laksmi, yang dikenal dengan Dewi Tri Upasedana atau dewi pemberi kesuburan dan kemakmuran.

Pemangku Pura Tap Sai, Jro Mangku Santa, 56 mengatakan kata Tap Sai berasal dari kata matapa sai sai (bertapa atau semedi setiap hari. Sedangkan nama Jineng itu diambil dari Gunung Jineng yang ada di sana, yang secara umum namanya Gunung Agung. Konon tempat berdirinya pura itu dulunya adalah tempat bersemedi. Tidak diketahui dengan pasti kapan pura itu mulai ada.  

Secara struktur mandala, pura ini terdiri dari tiga areal atau mandala yang merupakan simbol tingkatan kesucian. Yakni bagian areal kanista mandala (jaba), madya mandala (jaba tengah) dan utama mandala (jeroan).

Pada Kanista Mandala ada empat buah bangunan/palinggih yaitu Palinggih Ratu Penyarikan Sakti, Palinggih Ratu Mekel Lingsir, Palinggih Widyadara-Widyadari, dan Palinggih Pengayengan Bhatara Dalem Ped. Bentuk palinggih berupa gedong, padmasari, dan tugu yang kebanyakan sudah permanen, Palinggih Ratu Mekel Lingsir berbentuk batu alami yang besar.

Selanjutnya pada Madya Mandala ada lima buah palinggih dan beberapa buah bangunan penunjang. Kelima palinggih itu adalah Palinggih Padmasari, Palinggih Sang Hyang Ganesa, Palinggih Jineng, Palinggih Taru Ee Baas, dan Palinggih Apit Lawang.

Bangunan penunjang terdiri atas Bale Pesanekan, Bale Pesantian, Bangunan Jineng, Bale Gong, Bale Kulkul, dan Bale Dana Punia. Semua palinggih sudah permanen, hanya Bale Pesantian dan Bale Dana Punia kualitasnya masih semi permanen.

Jika pemedek hendak memasuki areal utama mandala, maka harus naik tangga yang cukup terjal setinggi kurang lebih 10 meter. Pada bagian Utama Mandala terdapat 13 (tiga belas) bangunan palinggih yang berfungsi sakral (suci) dan profan (umum).

Belasan pelinggih itu diantaranya, Palinggih Jineng, Palinggih Padmasari, Palinggih Ratu Dasar, Palinggih Lingga‐Yoni, Palinggih Dewi Saraswati, Palinggih Dewi Sri, Palinggih Dewi Laksmi (Ratu Rambut Sadhana), Palinggih Batu Gede, Bale Pasimpenan, Bale Sakapat, Bale Pawedaan, Bale Pengaruman Alit.

“Di areal inilah ketiga Palinggih yakni Dewi Saraswati, Dewi Sri, dan Dewi Laksmi (Ratu Rambut Sadhana) biasa disebut Tri Upasedana. Bentuk palinggihnya bisa berupa 1 palinggih dengan 3 ruangan/gedong dengan warna bahan menerapkan prinsip warna Tridatu yaitu merah, putih, dan hitam,” sebutnya.

Uniknya, di areal pura juga terdapat lempengan batu datar untuk tempat semedi pada jaman dahulu. Di pura ini juga terdapat tiga sumber mata air yang dianggap pingit maupun sangat disakralkan. Posisinya berada di belakang pura.

Selain itu juga kerap muncul hal-hal aneh. Seperti rambut warna-warni, jinah bolong, permata, keris, tusuk konde, sinar. Bahkan, tidak jarang juga terdengar suara auman Harimau yang didengar oleh pemedek.

“Pada saat nuur tirta ada sinar di sangku, kadang-kadang suara macan, suara macan, itu sering terdengar,” katanya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Pura Pajinengan Gunung Tap Sai #dewi sri #dewi saraswati #metapa #dewi laksmi #auman harimau #kahyangan jagat #SEMEDI