JEMBRANA EXPRESS - Mengapa setiap rinci upacara Pitra Yadnya, khususnya Memukur atau Malegia Punggel, memicu rasa penasaran yang mendalam di kalangan umat Hindu Bali?
Apa makna sesungguhnya di balik ritual akhir yang melibatkan Nyegara Gunung dalam tata ruang spiritual Bali yang kaya?
Menurut Dr. I Made Yudabakti, Dekan Fakultas Pendidikan Agama dan Seni di Universitas Hindu Indonesia, konsep Nyegara Gunung bagi Umat Hindu di Bali adalah gambaran tentang keseimbangan alami yang menghubungkan gunung dan laut, material dan spiritual, dunia kasat mata dan dunia metafisik.
Dalam wawancaranya dengan Bali Express (Jawa Pos Group), Dr. Yudabakti menggambarkan Nyegara Gunung sebagai sebuah representasi penting dalam budaya Bali yang mencerminkan harmoni alam semesta.
Menurutnya, upacara Nyegara Gunung adalah langkah terakhir dalam rangkaian upacara besar Pitra Yadnya.
Ini adalah saat di mana Dewata-dewati, yang dulunya Dewa pitara, akhirnya disthanakan di Sanggah atau Sanggah Kemulan atau Pura Kawitan.
Proses ini menjadi kunci bagi umat Hindu Bali untuk memperkuat hubungan spiritual dengan para leluhur.
“Upacara Nyegara Gunung ini adalah yang terakahir, sehingga terciptanya Dewata-dewati setelah itu barulah disthanakan di Sanggah atau Sanggah Kemulan atau Pura Kawitan,” jelas pria asal Tulikup ini.
Dr. Yudabakti menjelaskan bahwa pentingnya upacara Nyegara Gunung tidak bisa diabaikan. Ritual ini dianggap sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan para Dewata-dewati, yang kemudian diyakini menjadi perantara antara manusia dan alam gaib.
Lokasi pelaksanaan upacara di tepi pantai atau segara (laut) menjadi simbolis karena laut dianggap sebagai sumber kehidupan dan spiritualitas.
Selain itu, Dr. Yudabakti menyoroti pentingnya peran seorang sulinggih dalam menjalankan upacara Nyegara Gunung.
Sebagai pemimpin upacara, sulinggih memainkan peran kunci dalam menyatukan elemen Predhana (laut) dan Purusa (gunung) dalam prosesi penciptaan.
Tidak hanya itu, konsep Nyegara Gunung juga mengandung makna filosofis yang dalam.
Banyak yang menginterpretasikan hubungan antara gunung dan laut sebagai simbol pertemuan lingga dan yoni, tempat di mana spiritualitas tinggi dapat dirasakan.
Hal ini tercermin dalam banyaknya pura suci di Bali yang mengadopsi konsep Nyegara Gunung, seperti Pura Tanah Lot, Pura Luhur Uluwatu, dan Pura Pulaki Singaraja.
Melalui pemahaman akan Nyegara Gunung, umat Hindu Bali memperkuat ikatan spiritual mereka dengan alam semesta dan meresapi kebijaksanaan leluhur mereka.
“Itulah sebabnya para Leluhur memilih tempat-tempat strategis semacam itu, untuk melakukan Yoga Semadi. Serta membangun tempat -tempat suci di areal yang berpatokan Nyegara Gunung tersebut,” tutup Yudabakti.
Dalam upaya pencarian spiritual, seperti pendakian menuju pencerahan rohani, konsep ini memberikan landasan yang kuat bagi pencarian makna dan kedalaman spiritual. ***