Selanjutnya dilakukan dengan pembuatan sarana banten, matur piuning sebagai suatu kegiatan atau pemberitahuan dan permohonan ijin kepada pada dewa yang berstana di pura/kahyangan Desa Pakraman Pedawa dan Ngalabaanin Jero Ngurah Wates Desa.
Balian Desa, Nyoman Kalam mengatakan, tradisi Ngalabaanin Jero Ngurah Wates bisa dimaknai sebagai momentum melakukan pembersihan atau peleburan dosa baik masyarakat yang melaksanakan upacara tersbut maupun hewan dan tumbuhan yang dijadikan sebagai sarana upacara korban.
“Diharapkan hewan atau tumbuhan yang dijadikan sarana dapat menjelma sebagai manusia di kehidupan selanjutnya,” bebernya.
Tradisi Ngalabaanin Jero Ngurah Wates Desa juga bertujuan untuk menjaga keharmonisan. Karena diyakini dengan pelaksanaannya dapat mengembalikan keseimbangan hubungan baik antara alam dengan manusia, manusia dengan manusia, maupun manusia dengan Tuhan.
“Ngalabaanin Jero Ngurah Wates Desa dapat menghilangkan marana, gering, yang ada di Pedawa, sehingga masyarakat dapat hidup dengan tentram,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika