Tarian Janger Kolok ditarikan oleh 12 orang. Rinciannya sebanyak 10 orang penari laki-laki dan 2 orang perempuan. Seluruh penarinya merupakan percampuran antara orang dewasa dengan orang lanjut usia, dengan rentang usia 20-75 tahun. Jumlah penari ini mengikuti kondisi masyarakat difabel yang ada di Desa Bengkala sering berubah-ubah.
Saat pentas, penari Janger Kolok mengenakan busana khusus. Baik penari laki-laki dan perempuan mengenakan atribut yang berbeda. Khusus penari laki-laki mereka menggunakan udeng, perhiasan leher (badong), rompi, gelang, celana, dan kain yang dililitkan di atas celana.
Sedangkan Untuk penari perempuan atribut yang dikenakan yaitu mahkota (gelungan), perhiasan leher (badong), kemben, kain yang diikat di pinggang (oncer), dan kain kamen. Ada pula aksesoris tambahan yaitu topeng dan kipas (kepet).
Ketua Sekaa Tari Janger Kolok Desa Bengkala I Made Wisnugiri menceritakan keberadaan janger kolok tidak lepas dari peran almarhum Made Nedeng. Mendiang dikenal sebagai seniman tabuh di Desa Bengkala.
Sekitar tahun 1960-an aktivitas berkesenian masih didominasi oleh warga normal pada umumnya. Sedangkan aktivitas ekonomi yang dijalani orang kolok untuk mencari nafkah adalah menjual air. Apalagi ketersediaan air minum saat itu tidak seperti sekarang yang dapat diperoleh dengan mudah. Untuk mendapatkan air, warga Bengkala harus mengambil air di sungai.
“Warga yang punya keterampilan untuk mengambil air di sungai adalah warga kolok. Air yang didapat kemudian diperjualbelikan kepada warga Bengkala. Selain menjual air, warga kolok tidak mempunyai aktivitas lain,” jelasnya.
Diam-diam, aktifitas warga kolok mendapat perhatian dari mendiang Made Nedeng. Ia berniat untuk memberdayakan warga kolok. Nedeng menciptakan tari Janger Kolok yaitu untuk menciptakan hiburan yang berbeda dari kesenian-kesenian yang sudah ada. Beliau menyadari adanya potensi warga kolok di bidang kesenian.
Sekaa Janger Kolok berdiri sejak tahun 1967. Mendiang Made Nedeng mampu menggunakan bahasa kolok untuk berkomunikasi dengan warga kolok. Maka dari itu beliaulah yang terjun langsung mengajarkan gerakan tari Janger Kolok.
Proses pembelajaran gerakan tari berjalan cukup lama yaitu 3- 5 bulan. Hal tersebut wajar terjadi, terlebih lagi warga kolok belum ada yang pernah belajar menari sama sekali. “Warga kolok sangat antusias belajar menari,” sebut pria yang juga guru SDN 2 Bengkala ini.
Pada awalnya, gerakan tari Janger Kolok adalah gerakan tari Janger umumnya yang menampilkan gerakan tari Kecak. Gerakan itu juga dikolaborasikan dengan gerakan pencak silat yang menggunakan senjata tajam sebagai perlengkapan tari. Tak jarang, sebelum tampil anggota Sekaa Janger Kolok harus bersembahyang terlebih dahulu untuk memohon keselamatan.
Diceritakan Wisnugiri, setelah almarhum Made Nedeng tutup usia, belum ada warga Desa Bengkala yang bersedia membina Sekaa Janger Kolok. Kemudian datanglah mendiang Wayan Durpa berasal dari Buleleng. Mendiang merupakan anggota dari Bondres Dwi Mekar. Sosok Wayan Durpa juga fasih menggunakan bahasa isyarat sehingga beliau tidak kesulitan berkomunikasi dengan Sekaa Janger Kolok.
Tak pelak, di tangan mendiang Wayan Durpa Tari Janger Kolok juga mengalami perkembangan. Ada pun perubahan koreografi menjadi lebih mudah dan dibuat lebih modern dengan penambahan alur cerita yang diberikan oleh Wayan Durpa.
Wayan Durpa meyisipkan kisah Arjuna Wiwaha dalam tari Janger Kolok. Jadi terdapat satu babak yang menampilkan seseorang yang sedang bersemedi diganggu oleh makhluk halus. Koreografi hasil kreasikan oleh mendiang Wayan Durpa masih digunakan.
Setelah Wayan Durpa meninggal dunia, Janger Kolok dinaungi oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Bengkala. Pokdarwis Desa Bengkala yang dipimpin Ketut Kanta. Bahkan, ia dijadikan sebagai Ketua Paguyuban Warga Kolok Bengkala.
Pementasan tari Janger Kolok diiringi oleh kendang yang ditabuh oleh satu orang penabuh. Terkadang pementasan tari Janger Kolok diiringi musik gamelan sebagai tambahan. Saat pentas, penabuh kendang akan memberi isyarat gerakan untuk memandu gerakan para penari.
Penabuh kendang akan menaikan tangan kanan yang berarti penari harus memulai gerakan tarian. Untuk mengakhiri tarian, maka Penabuh kendang memberikan kode atau aba-aba kepada Penari tuli bisu, dengan menurunkan atau menaruh tangan kanan di atas kendang. Para penari juga memberikan simbol bahwa taian sudah berakhir dengan cara membungkukkan badan dan bersuara pur, seperti suara kempur.
“Kode atau aba-aba ini sangat memudahkan para penari yang hanya mengandalkan indra penglihatan saja untuk berinteraksi. Sehingga tarian tersebut bisa pentas sesuai dengan pakem dan berdurasi selama 15-30 menit,” sebutnya. (dik)