Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Tapel Suci Barong Brutuk dipentaskan saat Purnamaning Kapat Lanang

I Putu Mardika • Senin, 26 Februari 2024 | 03:19 WIB

Barong Brutuk di Desa Adat Trunyan, Kecamatan Kintamani, Bangli saat Purnama Kapat di Pura Pancering Jagat, Desa Trunyan
Barong Brutuk di Desa Adat Trunyan, Kecamatan Kintamani, Bangli saat Purnama Kapat di Pura Pancering Jagat, Desa Trunyan
JEMBRANA EXPRESS-Tapel yang digunakan pada Barong Brutuk di Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Bangli merupakan wujud wajah dari seorang Dewa yang dipuja di Pura Pancering Jagat dan juga ilen-ilen dari Dewa tersebut, yaitu Ratu Sakti Pancering Jagat. Seperti halnya Topeng yang dipakai Barong Brutuk tersebut merupakan tapel suci Ratu Brutuk, biasanya dipentaskan pada saat odalan Purnamaning Kapat.

Wakil Bendesa Adat Trunyan, Jero Mangku Permana menambahkan, Tapel Barong Brutuk terbuat dari bahan dasar kayu, pada umumnya adalah antik, serta berwajah seram. Tapel utama adalah simbol Dewa Tertinggi Trunyan, Ratu Sakti Pancering Jagat dan permaisurinya Ratu Ayu Mas Pingit Dalem. Selain itu ada pula ragam bentuk-bentuk tapel lain yang berperan sebagai sebagai pengiring atau anak buah.

Uniknya, tidak ada yang mengetahui sejak kapan tapel tapel yang disimpan di Pura Pancering Jagat tersebut dibuat. Bahkan, jumlahnya konon kerap berubah-ubah setiap harinya. Bisa 23 buah atau 21 buah. Terkadang angka tersebut berubah menjadi 19 tapel. Namun, berapapun jumlah tapel yang ditemukan pada hari itu, maka semuanya akan dipentaskan oleh penarinya.

Menariknya, menjelang pementasan, Para penari wajib menjalani karantina selama 42 hari disucikan di sekitar Pura Pancering jagat, dekat dengan patung Ratu Pancering Jagat. Selama dikarantina, mereka akan mempelajari tembang-tembang kuno, dan membersihkan areal pura. Mereka juga pantang berhubungan dengan wanita termasuk mengumpulkan daun kraras dari Desa Pinggan.

Topeng Duwe Lanang adalah Ratu Sakti Pancering Jagat dengan topeng warna hitam kemerahan, wajah tegas dengan mata besar dan seram. Di atas kepalanya dipasangi sungut terbuat dari batang bambu yang dikerat-kerat sehingga berbentuk bunga untuk membedakan dengan hiasan pada permaisuri. Ekspresi ini mencerminkan karakter tegas, berwibawa, mengayomi, dan dapat mengikat lawan jenis.

Sedangkan Topeng Duwe Istri dapat dilihat sesuai dengan bentuk atau karakter wajah dari topeng itu sendiri. Walaupun yang menarikan adalah laki-laki/teruna namun ketika dipentaskan akan muncul karakter yang sesuai dengan yang dibawakannya.

Seperti ekspresi wajah putih dengan mata bulat, alis tebal, mulut tersenyum dan rambut panjang hitam. Topeng Brutuk sebagai Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar sebagai simbol penguasa Danu, dengan karakter yang lembut, mengayomi, tegas dalam setiap mengambil keputusan dan menjadi idaman lawan jenis. Karakter Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar ditarikan oleh Sibakan Kaja (Sibakan Luh) atau paruh perempuan.

Karakter lain pengiring Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar adalah dengan menggunakan topeng berwarna hitam, hijau, dan ungu. Karakter tambahan ini oleh masyarakat Trunyan dipercaya sebagai pengiring dari Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar

Tokoh ini sangat disenangi oleh para ibu-ibu pemedek. Karena ia tidak akan memecuti dengan keras. Namun, dia akan memanggil dan berbagi lungsuran (sisa persembahan kepada Dewa Tertinggi) yang dibagikan kepada para pemedek. Bahkan ia membiarkan kostumnya diambil untuk dijadikan tamba, jimat, untuk keselamatan, dan kesehatan.

Duwe Lingsir merupakan kakak dari Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar, dengan bentuk topeng muka tua agak panjang dan mata sipit. Duwe Lingsir menjabat sebagai Pendeta Agung Trunyan, simbol orang tua yang bijaksana, ia membawa tongkat yang terbuat dari seikat lidi-lidi daun aren dan diikat dengan tali dari kulit pohon waru.

Pada saat pementasan berlangsung, Duwe Lingsir medal dengan menbawa tongkat karena menggambarkan bahwa ia sudah berumur dan sudah tua sehingga warga sangat paham kalau beliau itu adalah Duwe Lingsir. Pecut Duwe Lingsir dibawakan oleh kerabat/pengabih teruna, setelah melakukan prosesi mengelilingi tembok pura sebanyak tiga kali barulah pecut-pecut itu diberikan kepadanya.

Ada pula topeng-topeng lain tetapi tidak diketahui identitasnya yang jelas, namun masyarakat Trunyan mengetahui dari bentuk wajah topeng dan dari perilaku yang mereka bawakan, seperti Duwe Jantuk, dengan bentuk muka panjang dan warna topeng putih. Duwe-duwe lain sebagai Patih dan Pengiring Ratu Brutuk ada yang berwarna hitam kegelapan, warna kemerahan dan lain sebagainya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Ratu Sakti Pancering Jagat #Tapel #kintamani #desa trunyan #bangli #barong brutuk #Pura Pancering Jagat