JEMBRANA EXPRESS – Peran rohaniawan dalam agama Hindu ternyata memiliki kedudukan yang sangat penting, terutama dalam pelaksanaan suatu yadnya.
Sebuah penelusuran menarik mengungkap bahwa rohaniawan memainkan peran kunci dalam menjalankan tradisi ini di Bali.
Menurut Penyuluh Agama Hindu, Ida Bagus Putu Wiadnyana Manuaba, ada tiga unsur utama yang memegang peran sentral dalam yadnya.
Pertama, Yajamana, yang bertindak sebagai pelaksana atau pemilik yadnya.
Kedua, Pancagra atau sang widya, yang terdiri dari para tukang atau serati yang mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam upacara.
Dan ketiga, Sadhaka, yang merupakan rohaniawan yang bertugas mengantar yadnya dengan puja maupun mantra.
Lebih lanjut, rohaniawan yang dipilih untuk tugas ini bergantung pada skala yadnya. Yadnya besar dipimpin oleh Sulinggih, yang merupakan rohaniawan dwi jati, sementara yadnya kecil cukup diantar oleh rohaniawan tingkatan eka jati seperti pemangku.
"Menurut buku Indik Kepemangkuan yang diterbitkan oleh Pemprov Bali, rohaniawan dwi jati disebut Sulinggih dengan sebutan Pedanda, Empu, Dukuh, maupun Resi. Sedangkan rohaniawan eka jati disebut Pemangku, Pinandita, Balian, Mangku Dalang, dan sejenisnya," papar Ida Bagus Putu Wiadnyana Manuaba.
Peran rohaniawan dalam tradisi yadnya dihormati dalam pandangan agama Hindu, dan oleh karena itu, menjaga nama baik dan kesucian diri pribadi menjadi hal yang sangat penting.
Aturan-aturan yang mengatur kehidupan rohaniawan Hindu banyak diuraikan dalam sumber-sumber sastra Agama Hindu.
Namun, masih ada perbedaan dalam tradisi dan tata cara di beberapa tempat yang memiliki warisan dari zaman Bali Kuno. ***