Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Nulak Damar di Tenganan Dauh Tukad sebagai Persembahan kepada Ida Bhatara Ring Gunung Agung

I Putu Mardika • Sabtu, 2 Maret 2024 | 19:16 WIB

ayunan yang digunakan saat Nulak Damar di Desa Tenganan Dauh Tukad, Kecamatan Manggis, Karangasem
ayunan yang digunakan saat Nulak Damar di Desa Tenganan Dauh Tukad, Kecamatan Manggis, Karangasem
JEMBRANA EXPRESS-Puncak upacara nulak damar di Desa Tenganan Dauh Tukad, Kecamatan Manggis, Karangasem dilaksanakan dua hari setelah acara nyujukang ayunan. Prosesinya dilaksanakan dalam tiga tahapan, yaitu di rumah subak banjar, di ayunan desa dan di masing-masing banjar disebut juga upacara penulakan damar, diawali dengan persiapan sarana bebantenan.

Bendesa Adat Tenganan Dauh Tukad, Wayan Tisna menambahkan, pada saat puncak upacara nulak damar, dimulai setelah selesainya pesangkepan (rapat) anggota teruna di bale agung, persis setelah matahari terbenam. Setelah semua proses persiapan lengkap dan semua peserta upacara kumpul di dekat ayunan yaitu di depan Bale Banjar kaje dan Bale Banjar kelod.

Banten penulakan damar yang ada di banjar dibawa ketempat ayunan desa oleh teruna, ditaruh di bawah/di tanah, di depan ayunan dengan dialasi tikar dari pandan. Dilanjutkan dengan mesegeh, metabuh arak berem. Kemudian ngaturang sarana bebantenan yang dipimpin oleh salah seorang Keliang Teruna yang disebut Keliang Tumpeng.

Keliang Tumpeng berperan sebagai Mangku ayunan. Doa-doa yang diucapkan masih bersifat rahasia dalam bentuk sehe atau sesontengan. Sehe adalah bentuk Doa dengan ucapan-ucapan sederhana tetapi dilakukan dengan kidmat penuh penghayatan.

“Di akhir doa ditandai dengan menarik tipat lepas lanang-wadon oleh Mangku ayunan dengan menyampaikan ucapan; matiang lubake idupang siape, artinya ‘bunuh musangnya hidupkan ayamnya” sebutnya.

Usai berdoa, sarana penulakan damar di tempatkan di salah satu tempat duduk ayunan tersebut. Kemudian beberapa anggota teruna anyar naik ketiang ayunan, dan ayunan yang sudah di isi sarana bebantenan mulai digerakan perlahan memutar searah jarum jam sebanyak tiga kali putaran, dan kearah sebaliknya juga sebanyak tiga kali putaran.

Persembahan pada saat puncak upacara nulak damar ditujukan kepada Ida Batara ring Gunung Agung, yang bermakna mohon keselamatan dan sinar sucinya dalam rangka pelaksanaan usaba sambah.

Lebih jauh dijelaskan Wayan Tisna bahwa upacara nulak damar mengandung filosofi yang tinggi. Sebab, sesuai putaran nulak damar bahwa manusia hidup seperti roda berputar bisa diatas dan bisa dibawah. “Maka jalani hidup dengan penuh ikhlas, berbuat baik, jangan takabur atau sombong, karena kita nyungsung dewa ayunan,” paparnya.

Makna kata matiang lubake idupang siape menyebutkan bahwa lubake atau musang adalah binatang malam yang hidup dalam kegelapan. Sedangkan siape atau ayam binatang yang hidupnya disiang hari.

Artinya membunuh atau menghilangkan kegelapan untuk mendapatkan pencerahan dalam kehidupan. “Ini artinya membunuh karakter yang jahat atau tidak baik, dan bangkitkan karakter kepribadian yang baik dalam diri,” katanya lagi

Tahap terakhir puncak upacara nulak damar dilanjutkan di masing-masing banjar dan bale agung dalam suasana pesangkepan adat. Pesangkepan anggota teruna bertempat di Pura bale agung, banjar kaje bertempat di bale banjar kaje dan anggota banjar kelod bertempat di bale banjar kelod. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#nulak damar #gunung agung #ayunan #Manggis Karangasem #Desa Adat Tenganan Dauh Tukad