Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Berikut Penempatan Bija, Makna, dan Doa bagi Umat Hindu di Bali

I Putu Suyatra • Minggu, 3 Maret 2024 | 03:38 WIB
Bija bagi umat Hindu di Bali digunakan setelah melakukan persembahyangan.
Bija bagi umat Hindu di Bali digunakan setelah melakukan persembahyangan.

JEMBRANA EXPRESS - Dalam prosesi sembahyang umat Hindu di Bali, ada satu tahapan misterius yang mencuri perhatian: mabija atau mengenakan bija.

Tetapi, apa sebenarnya makna di balik ritual menggunakan bija bagi umat Hindu di Bali, ini?

Menurut Brahmacaria Indra Udayana dari Ashram Gandhi Puri, mabija bukan sekadar ritual kosong.

Ia adalah momen penyematan benih kesucian dalam pikiran, ucapan, dan hati, menciptakan tindakan indah dan baik dalam setiap langkah kehidupan.

"Bija, sebagai unsur utama dalam kehidupan, terkait erat dengan Sri Laksmi," ungkapnya dengan penuh semangat kepada Bali Express.

Bija, yang terbuat dari beras utuh, melambangkan keberadaan Siva Mahadeva dan seluruh alam semesta.

Lebih lanjut, Indra Udayana menegaskan pentingnya memilih beras terbaik untuk bija, yang utuh dan tidak terpotong.

Kata "bija" sendiri berasal dari Bahasa Jawa kuna, vija dalam Bahasa Sansekerta, yang juga dikaitkan dengan pranava Om, nama utama Tuhan.

Namun, mabija tidak hanya sekadar ritual; itu adalah proses tumbuh kembangnya ke-Siwa-an dalam diri seseorang, mengatasi sifat-sifat negatif dan mengembangkan sifat-sifat yang ilahi.

Di samping itu, tempat penempatan bija juga memiliki makna tersendiri.

Dari kening hingga dada, setiap lokasi memiliki tujuan dan doa khusus yang mengiringinya, memuja Tuhan dalam berbagai wujud dan mengaktifkan energi tubuh yang tersembunyi.

Dalam rangkaian ritual yang dipenuhi makna ini, mabija bukan hanya sekadar upacara, tetapi perjalanan spiritual yang membangkitkan kesadaran akan kesucian dan keberadaan ilahi di dalam diri manusia.

Berikut Penempatan Bija, Makna, dan Doa bagi Umat Hindu di Bali

  1. Di Kening

Ketika bija diletakkan di kening, fokus pada hal-hal yang suci menjadi tujuan utama.

Doa yang disertakan ketika meletakkan bija di kening adalah "Om Shriyam Bawanthu," yang bermakna semoga cerdas atas anugerah Hyang Widhi.

Penggunaan bija di kening mencerminkan pengabdian kepada Tuhan dalam wujud Omkara, serta menandakan konsentrasi pikiran menuju kesempurnaan Tuhan.

Orang yang menggunakan bija di kening diharapkan dapat mengekspresikan perilaku yang sattvika, penuh kasih, dan bijaksana.

  1. Di Dada

Pemakaian bija di dada bertujuan agar kesucian dapat bersemayam.

Doa yang menyertai penempatan bija di dada adalah "Om Sukham Bhawanthu," yang berarti semoga mendapatkan kebahagiaan atas anugerah Hyang Widhi.

  1. Ditelan

Bija yang ditelan memiliki makna menanam benih kesucian dalam diri dan juga untuk mendapatkan anugerah kemakmuran.

Doa yang diucapkan saat menelan bija adalah "Om Purnam Bhawanthu, Om ksama sampurna ya namah swaha", yang berarti semoga mendapat kesempurnaan dan pengampunan dari Hyang Widhi.

Penempatan bija di tempat-tempat lain juga memiliki kepentingan tersendiri.

Misalnya, di pangkal tenggorokan untuk menguatkan kundalini, yaitu tujuh cakra dalam tubuh yang memengaruhi fungsi biologis dan fisiologis.

Cakra Ajna, salah satu dari cakra tersebut, memiliki peran penting dalam aktivasi energi tubuh.

Mengutip Siva Samhita 113, kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi pada Ajna dapat menghasilkan pengaruh yang besar bahkan terhadap makhluk-makhluk gaib.

Demikian pula, peletakan bija di pangkal leher belakang dipercayai dapat melindungi dari bahaya. 

Sedangkan di bawah daun telinga kiri dan kanan dikaitkan dengan pengendalian panca indra, atau lima indra. ***

 

 
 
Editor : I Putu Suyatra
#hindu #doa #bija #bali