Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Makna Kober Ganesha dalam Tawur Kesanga, Diyakini Nyomia Bhuta Kala

I Putu Mardika • Jumat, 8 Maret 2024 | 02:54 WIB

 

Kober Ganesha saat Upacara Tawur Kesanga jelang Nyepi sebagai sarana menyomia Bhuta Kala
Kober Ganesha saat Upacara Tawur Kesanga jelang Nyepi sebagai sarana menyomia Bhuta Kala
JEMBRANA EXPRESS-Upacara Taur kesanga saat Tilem Sasih Kesanga atau sehari sebelum Catur Brata Penyepian tidak terlepas dari penggunaan Kober Ganesha.

Hal ini tidak terlepas dari Ganesha sebagai avighnasvara, yakni menyomia bhuta kala yang ada di sekitar pekarangan rumah agar tidak mengganggu manusia.

Dosen Filsafat STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Made Gami Sandi Untara mengatakan, tujuan caru dalam Taur Kesanga adalah menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan alam lingkungannya.

Dalam lontar Agastia Parwa disebutkan Bhuta yadnya ngarania taur muang kapujan ring tuwuh. Artinya Bhuta yadnya adalah mengembalikan dan melestarikan tumbuh-tumbuhan.

“Jadi, makna bhuta yadnya adalah untuk menumbuhkan keseimbangan jiwa antara mengambil dan mengembalikan,” ungkapnya.

Setiap hari manusia sebut Gami mengambil berbagai sumber-sumber alam seperti air, tanah, api, udara yang sehat, dan akasa.

Setelah mengambil itu jangan lupa mengembalikannya agar kembali lestari dan kemudian untuk diambil lagi demi memelihara kelangsungan hidup ini.

Demikian juga hasil-hasil alam seperti tumbuh-tumbuhan dan hewan yang menjadi bahan makanan sehari-hari.

“Jangan hanya memanfaatkan saja tanpa ingat untuk kembali membudidayakannya sehingga tidak punah. Dengan butha yadnya maka tujuannya adalah merawat segala ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berbentuk alam semesta ini,” paparnya.

Taur kesanga yang diselenggarakan setiap tilem kesanga dengan upacara bhuta yadnya dari tingkat rumah tangga, lingkungan banjar, desa sampai ke tingkat pusat merupakan bentuk upacara bhuta yadnya.

Dalam taur kesanga tersebut digunakan banten caru di tingkat merajan (sanggah). Sarananya berupa banten pejati dan di natar pelinggih menghaturkan segehan agung cacahan 11 atau 13 tanding.Banten ini dipersembahkan kepada Sang Hyang Bhuta Bucari.

Pada tingkat halaman rumah digunakan banten berupa segehan manca warna sembilan tanding dengan olahan ayam brumbun disertai tetabuhan tuak, arak, berem, dan air dari desa setempat, dihaturkan kepada Sang Bhuta Raja dan Sang Kala Raja.

Sedangkan di lebuh digunakan banten berupa segehan nasi cacah 108 tanding dengan ulam jeroan matah dilengkapi segehan agung serta tetabuhan tuak, arak, berem, dan air dari desa setempat. Dihaturkan kepada Sang Bhuta Kala dan Sang Kala Bala.

Untuk banten di lebuh ini, umumnya ditambah dengan banten Gana, yang ditujukan pada Dewa Ganesha. Mengingat caru yang dihaturkan di lebuh dilengkapi dengan kober Ganesha.

“Banten gana ini dipersembahkan pada Dewa Ganesha dan selalu dilengkapi dengan kober Ganesha,” jelasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#ganesha #taur kesanga #tilem #Kober #kesanga #Sasih #bhuta kala