Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Tradisi Unik Hindu Bali Mapengenduh: Kunci Rahasia Lancarnya Pujawali di Desa Kekeran, Buleleng Ada di Tempat Pembakaran Jenazah

I Putu Mardika • Minggu, 10 Maret 2024 | 03:48 WIB
Salah satu segehan yang digunakan pada tradisi Hindu Bali milik Desa Kekeran, Busungbiu, Buleleng.
Salah satu segehan yang digunakan pada tradisi Hindu Bali milik Desa Kekeran, Busungbiu, Buleleng.

JEMBRANA EXPRESS  - Di tengah keindahan Desa Kekeran, tersembunyi sebuah tradisi Hindu Bali kuno yang melegenda, yakni Mapengenduh.

Salah satu tradisi unik umat Hindu Bali ini tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat, tetapi juga menjadi kunci kelancaran Pujawali di Pura Kahyangan Tiga, dengan kepercayaan kuat bahwa tanpa pelaksanaannya, upacara dewa yadnya akan terhambat dan diserang oleh berbagai ancaman, termasuk wabah penyakit.

Prosesinya digelar di Setra Desa Adat Kekeran, tepatnya di tempat pembakaran jenazah bagi umat Hindu Bali.

Detail prosesi Mapengenduh, seperti diuraikan oleh tokoh masyarakat Desa Kekeran, Ketut Agus Nova, S.Fil.H, M.Ag, atau lebih dikenal sebagai Jro Anom, memberikan gambaran yang mendalam tentang kekayaan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Prosesi dimulai dengan mapiuning di Pura Kahyangan Tiga dan Pura Prajapati.

Setelah itu, upacara dilanjutkan ke Pamuwon atau tempat pembakaran jenazah yang dipimpin oleh Jero Mangku, pemimpin spiritual dalam masyarakat Hindu Bali.

Ritual dimulai dengan ngastawa tirta, suatu bentuk penyucian diri dan lingkungan sekitar.

Setelah itu, ngemargiang perersik, di mana para peserta melakukan penjelajahan spiritual dalam diri mereka untuk berkomunikasi dengan Dewi Durga.

Kemudian, dilaksanakan mepiuning kepada Dewi Durga dan Ancangannya di Pamuwon, yang merupakan puncak dari keseluruhan upacara.

Setelah itu, prosesi dilanjutkan dengan persembahyangan bersama, menandai kesatuan spiritual antara masyarakat Desa Kekeran dengan dewa-dewa mereka.

Langkah berikutnya adalah menuju ke Beji untuk memohon tirta penglukatan, yang merupakan bagian penting dari keseluruhan ritual.

Berbagai jenis banten (persembahan) digunakan dalam upacara ini, seperti banten suci, sorohan, sesipatan, peras pejati, segehan agung, dan caru biing.

“Banten yang digunakan seperti banten suci, sorohan, sesipatan, peras pejati, segehan agung, caru biing,” beber Jro Anom.

Namun, yang paling menarik adalah berbagai segehan yang digunakan, seperti segehan macan, segehan rangda, segehan samong, dan banyak lagi.

Segehan merupakan lambang harmonisnya hubungan manusia dengan semua ciptaan Tuhan dan dihaturkan untuk menghadirkan kedamaian serta menetralisir pengaruh negatif.

Selain itu, dalam rangka melindungi pura dari pengganggu spiritual, sanggah Durga dipasang di pintu masuk pura saat pujawali digelar.

Ini merupakan upaya untuk menghalau pengganggu dan menjamin kesucian pura.

Dari penuturan Jro Anom, diketahui bahwa tidak melaksanakan Mapengenduh dapat berdampak serius, seperti terganggunya kelancaran upacara pujawali, bahkan hingga munculnya ancaman seperti wabah penyakit.

“Sarana banten bisa saja diserang semut, diserang ulat. Bahkan banyak anjing yang masuk ke pura. Intinya tak bisa berjalan maksimal,” tuturnya.

Sehingga, Mapengenduh bukan sekadar ritual, tetapi juga suatu keharusan yang diwarisi dari leluhur, memperkuat ikatan spiritual masyarakat Desa Kekeran dengan alam dan dewa-dewa mereka, serta menjaga keberlangsungan kehidupan dan keberkahan di desa tersebut. ***

 
 
 
Editor : I Putu Suyatra
#Desa adat #unik #dewi durga #jenazah #hindu #setra #segehan #pujawali #tradisi #buleleng #bali