Karang Panes adalah pekarangan yang tidak baik untuk dijadikan tempat tinggal karena diyakini berakibat tidak baik bagi orang menghuninya, misalnya seringkali bertengkar lantaran hal-hal sepele, kecurian, kena fitnah, diganggu mahluk halus dan sebagainya.
Akademisi STHAN Mpu Kuturan Singaraja, Dr. Ida Made Windya, S.Ag, M.Ag mengatakan Karang Panes diakibatkan oleh ketidakharmonisan dengan lingkungan. Ketidakseimbangan inilah berdampak negatif kepada penghuni.
Pemilihan sebuah pekarangan untuk dibangun tempat tinggal hendaknya memperhatikan hal-hal yang diyakini dapat menciptakan kondisi yang harmonis. Menurut beberapa lontar yang memuat tentang baik buruknya tata letak, bentuk pekarangan atau tanah tempat tinggal,
Diantaranya Tutur Bhagawan Wiswakarma, Bhamakertih, Japakala, Astabhumi, roga senghara bhumi yang menyatakan ciri-ciri karang bhaya (panes). Dikatakan Ida Made Windya, dapat dipahami dari ciri-cirinya.
Diantaranya, Bhuta Salah Wetu (babi beranak satu, pohon kelapa bercabang), Wong Baya, jamur atau cendawan tumbuh dalam rumah.
Bumi Sayongan, ada asap tanpa ada api, Kelebon Amuk, Toya Baya ada darah tercecer, Lulut Baya (ada binatang Lulut), Tawon Sirah atau Kawisian, ada ular masuk pekarangan atau ke dalam rumah, dan sebagainya.
Dimana pertanda itu ada Keraja Bhaya atau darah di areal rumah bercecer. Entah darah binatang atau darah manusia.
"Ada lagi kalau kita memelihara binatang seperti anjing, babi. Semestinya kan bisa beranak lebih dari satu. Tetapi kalau hanya beranak satu ekor, kemudian rupanya tidak sesuai (babi berbelalai) seperti induknya. Ini juga ciri karang panes,” katanya.
Pada sumber-sumber lain seperti Tutur Prawesa, Durmanggala dan tutur Lebur Sangsa disebutkan ciri-ciri karang bhaya (panes), yaitu: Kageni bhaya, kebakaran di pekarangan, Kapanca bhaya, pohon tumbang tanpa sebab yang jelas.
Karipu bhaya, rumah tertimpa pohon kayu, Kalebon amuk, ada orang ngamuk masuk rumah, Kalulut bhaya, ada lulut emas, perak, Karaja bhaya, ada darah tercecer di pekarangan tanpa sebab; Karaga bhaya, ada orang menusuk diri di rumah.
Karare bhaya, meninggal karena melahirkan, Katoya bhaya, meninggal karena hanyut. Selain itu Salah pati, meninggal karena kecelakaan.
Kemudian Ngulah Pati, bunuh diri, Tumbak rurung, Dreti krama, gamya gamana, memperkosa, memegal dan Ragasesa, yakni merubah bangunan yang sudah selesai tanpa proses nuntun, praline
Karang panes juga dapat disebabkan karena lokasi atau tempat atau pengaruh teritorial, pekarangan.
Semisal karang teledu nginyah (pekarangan yang tidak ada penyanding, dikelilingi jalan melingkar, Karang Kuta Bebanda, karang yang dikelilingi jalan, sungai, diapit dua ruas jalan.
Karang Ketumbah Marga, katumbah tukad, karang kerubuhan, dan Sula Nyupi, Karang Sandang Lawang, angkul-angkus berpapasan dengan saudara, Karang Mayeleking, angkul-angkul berhadapan dengan tetangga.
Ada juga Karang Tusuk Sate, di tengah-tengah karang ada jalan, Karang Lebah, karang yang mereng kelod kauh, doyan desti, Karang Naggu, Karang Kalarawu, memiliki pintu masuk lebih dari 3 (tiga).
Karang gerah diartikan sebagai bersebelahan dengan Pura, Balai Banjar, dan Setra. Kemudian Karang dengen, karang sepi dan merasakan rasa takut.
Karang Karogan artinya binatang senggama di tempat suci. Karang kawisian dimaknai sebagai karang dimasuki ular, tawon. Karang Bhuta Salah Wetu, anjing, babi beranak satu, pisang atau kelapa bercabang.
Sedangkan Karang bhaya dapat disebabkan karena faktor alam, bahan yang digunakan membangun pernah disambar petir lalu mati dipohon (kayu kelayon).
“Bisa juga terjadi karena ulah manusia, misalnya tukang salah ukuran bangunan, ulah orang sakti (Wong Bhaya), karena tetaneman ulah orang, tumbal dan lain-lainnya,” jelasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika