Pura ini juga menjadi stana dari Sang Hyang Naga Tiga, yakni Naga Anantaboga, Naga Basuki dan Naga Taksaka.
Para pemedek yang nangkil ke Pura Besakih, setidaknya bisa melaksanakan persembahyangan ke Pura Goa Raja. Seperti Namanya, pura ini berada posisinya di bawah tebing dan menjorok menyerupai goa. Luas areal goa ini tak lebih dari 10 meter persegi
Untuk menjangkau pura tersebut, pemedek cukup berjalan kaki sepanjang 400 meter dari areal parkir. Kemudian akan menemukan kompleks pelinggih yang di depan pelinggih terdapat cekungan yang menyerupai alirah lahar.
Di dalam goa tersebut, terdapat tiga pelinggih Naga, sehingga disebut sebagai stana Sang Hyang Naga Tiga.
Yakni Hyang Naga Anantaboga sebagai wujud dari Dewa Brahma, Sang Hyang naga Basuki sebagai wujud Dewa Wisnu dan Sang Hyang Naga Taksaka sebagai Wujud dari Dewa Iswara.
Mangku Kubayan Manik Arjawa selaku pengempon Pura Goa Raja mengatakan, keberadaan pura Goa Raja erat kaitannya dengan Pura linggih Rambut Sedana yang diyakini sebagai tempat sarwa mulih, harta brana.
“Sebelum nunas di Pura Rambut Sedana, maka wajib nunas di Pura Goa Raja. Karena disinilah diyakini sebagai pemiliknya. Kalau belum ada petunjuk sebagai Naga Tiga, kan tidak mungkin umat akan diberikan kesejahteraan,” jelasnya.
Dikatakan Mangku Kubayan, dalam Lontar Kusuma Dewa dipaparkan keterkaitan dengan Pura Basukian, Pura Pengubengan, pura Bangun Sakti dan Pura Goa Raja. Dalam lembar 51 lontar, disebutkan keberadaan Bhatara Bhuana Agung.
Dalam lontar itu juga disebutkan ada sebuah Gunung Mahameru, yang juga berarti Gunung Agung.
Puncak Gunung Mahameru konon bisa menggapai angkasa. Sedangkan pangkal dasarnya menembus sapta patala atau tujuh lapisan bumi. Tempat inilah merupakan pertemuan para dewata menciptakan baik atau ayu dan menciptakan buruk atau ala di dunia ini.
Dalam lontar juga diceritakan jika Gunung ini dibelit oleh sang naga tiga. Pada bagian bawah dililit oleh Sang Anantabhoga beliau merupkann perwujudan bhatara Brahma.
Pada bagian tengah dibelit oleh Sang Hyang Naga Basuki perwujudan Bhtara Wisnu dan di bagian atas adalah Sang Hyang Naga Taksaka atau perwujudan Dewa Iswara.
“Dari sinilah awal mula tiga kahyangan di Besakih. Yakni Pura Bangun Sakti, Pura Basukian di tengah dan Pura pengubengan di puncak. Ketiganya bertemu dalam satu parahyangan yakni pura Goa Raja,” imbuhnya.
Tidaklah mengherankan jika Pura Goa Raja yang disebutkan dalam Lontar Kusuma Dewa diistilahkan dengan Kahyangan Pesamuan Naga Tiga sebagai tempat suci pertemuan Sang Hyang Naga Tiga.
Menurut penuturan Mangku Kubayan Manik Arjawa, Pura Goa Raja berperan spesifik sebagai tempat mendak nuntun. Prosesi ini biasanya dilaksanakan seusai upacara ngaben dan upacara ngeroras. Kemudian dilanjutkan upcacara mendak nuntun di pura Goa lawah dan Pura Dalem Puri
Setelah itu dilanjutkan mendak nuntun di Pura Goa Raja untuk selanjutnya distanakan di merajan masing-masing.
“Fungsi pura Goa Raja ini adalah untuk mendak para hyang bhatara Bhatari dewata dewati,” paparnya.
Piodalan di Pura Goa Raja dilaksanakan bertepatan dengan hari Buda Cemeng Kelawu, yang bersamaan dengan piodalan di Pura Basukian. Pada saat itu, umat Hindu dari berbagai pelosok di Bali nangkil untuk memohon kemakmuran dan kesejahteraan.
Dikatakan mangku Kubayan, proses piodalan dilaksanakan setahun dua kali. Yakni proses Ageng (agung) sekali dan alit sekali.
Saat odalan alit sarana yang digunakan adalah sorohan, suci, guling bebek. Sedangkan kalau saat odalan ageng, maka sarana yang digunakan adalah sorohan bebangkit, suci, berisi guling kucit
Selain saat rahina Buda Cemeng, umat Hindu juga ramai nangkil saat karya turun kabeh, hari purnama kedasa, maupun hari suci lainnya.
“Uniknya, di Pura Goa Raja ini terdapat goa yang tembus langsung ke Pura Goa Lawah dan Puncak kepundan. Menurut cerita yang berkembang, saat pemerintahan sang Raja Klungkung saat melakukan sabung ayam, ayam tersebut lari ke masuk ke goa lawah dan tembus di goa raja,” ungkapnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika