Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Pura Bukit Indrakila: Tempat Beryoga Para Raja era Bali Kuna

I Putu Mardika • Sabtu, 30 Maret 2024 | 02:44 WIB

 

Areal Utama Mandala Pura Bukit Indrakila, Desa Dausa, Kecamatan Kintamani Bangli
Areal Utama Mandala Pura Bukit Indrakila, Desa Dausa, Kecamatan Kintamani Bangli
JEMBRANA EXPRESS-Jika epos mahabarata menceritakan Gunung Indrakila sebagai tempat pertapaan Sang Arjuna saat memuja Siwa untuk mendapatkan Senjata Pasupati, maka di Desa Dausa, Kecamatan Kintamani, Bangli juga terdapat Pura Bukit Indrakila. Konon, Pura ini menjadi tempat bertapa seorang raja.

Pura Bukit Indrakila merupakan salah satu Pura Kahyangan Jagat yang disungsung oleh Umat Hindu di Bali. Itu dibuktikan dari para pemdek yang nangkil berasal dari berbagai wilayah di pelosok Pulau Dewata.

Pura ini berada di sebuah perbukitan di Desa Dausa, atau sekitar 1300 meter di atas permukaan air laut. Pura ini berjarak kira-kira 40 km dari Kota Bangli kearah utara, dan jarak tempuh sekitar 45 menit.

Lokasi pura ini dapat dijangkau dengan beragam kendaraan bermotor. Baik kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat. Pura ini diempon oleh dua desa dinas, yakni Desa Dausa dan Desa Satra. Dari kedua desa dinas tersebut, kemudian memiliki 9 Desa Adat.

Pura ini dilaksanakan pujawali setahun sekali dengan perhitungan sasih tepatnya pada Purnama Sasih Kapat dan Nyejer selama 5 hari. Seluruh pemedek yang nangkil saat pujawali tidak hanya dari wilayah pengempon semata. Tetapi juga dari berbagai wilayah di Bali.

Jro Mangku Gede Darmawan selaku pengempon Pura Bukit Indrakila mengatakan pura ini dianggap sebagai Pura Kuna yang sudah ada sejak era Bali Kuna.

Keberadaan sejarahnya pun diakui oleh sejumlah Raja di Bali baik pada jaman pemerintahan dinasti Singhamandawa, pada saka 857, maupun masa pemerintahan Paduka Sri Maharaja Ugrasena.

Pada jaman itu, keberadaan Pura Bukit Indrakila diberikan pengakuan atas para tetua pengempon pura bukit yang sudah menjalankan swadharma secara turun temurun. Sehingga pura keberadaan pura ini memang sudah diapresiasi oleh para raja.

Ada sejumlah prasasti yang menyinggung keberadaan pura Bukit Indrakila ini. Prasasti tersebut dikeluarkan pada jaman pemerintahan Raja Jaya Sakti di Bali, dari tahun 1133 hingga 1150 Masehi.

Pada jaman itulah diperkirakan Pura Bukit Indrakila dibangun. Konon, Pura ini dibangun atas kehendak raja sebagai tempat bermeditasi dan beryoga.

Karena kedudukan seorang raja amat berat dalam memimpin Kerajaan teruatama untuk memajukan rakyatnya.

“Pura ini tempat beryoga, memohon penggemblengan secara bathiniah, baik para raja, wiku luwih untuk mendalami proses secara kerohanian, sehingga calon raja pun juga digembleng di Pura Bukit Indrakila. Supaya raja memiliki kekuatan bathin dan mental untuk memimpin wilayah,” paparnya.

Selanjutnya pada era pemerintahan Raja Sri Anak Wungsu, Saka 983 sesuai prasasti yang ada, beliau juga memberikan pengakuan kepada Pura Bukit Indrakila.

Bahwa, dalam prasasti tersebut, raja memerintahkan siapapun yang bertahta di kemudian hari dan para punggawanya tidak boleh lupa dengan parahyangan Pura Bukit Indrakila.

Kemudian pada masa pemerintahan Sri Jaya Sakti, menyampaikan pula bahwa pura bukit Indrakila diberikan wilayah kekuasanannya termasuk menyebutkan pasramannya dan pasarnya.

“Di era masa pemerintahan Raja Sri Aji Jaya Pangus yang bertahta pada tahun 1103 Masehi, disebutkan jika Beliau merupakan raja terakhir yang memberikan pengakuan terhadap keberadaan Pura Bukit Indrakila,” katanya.

Pura Bukit Indrakila terbagi menjadi tri mandala. Pada bagian utamaning mandala terdapat beberapa bangunan pelinggih.

Seperti Meru bertumpang tujuh tempat Lingga Yoni dan arca-arca dari Dewata Nawa Sanga, Bale piyasan sebagai tempat menaruh Lingga Lingga yang berukuran lebih kecil yang berjumlah 33.

“Pada mandala ini tidak sembarangan orang boleh masuk, karena hanya orang orang yang sudah melakukan pewintenan saja yang diperbolehkan masuk untuk melakukan persembahyangan atau mau melakukan meditasi,” imbuhnya.(dik)

Editor : I Putu Mardika
#Pura Bukit Indrakila #Bali Kuna #kintamani #raja #Desa Dausa #bangli