Secara lokasi, Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap terletak di perbatasan Kabupaten Badung dan Kota Denpasar. Tepatnya di Muara Tukad Badung di jalan Bypass I Gusti Ngurah Rai Denpasar.
Tidaklah terlalu sulit untuk mencapai lokasi pura sekitar 600 meter kearah selatan dari jalan By Pass Ngurah rai, yang dibatasi oleh hutan bakau disebelah Timur dan danau buatan dari muara Tukad Badung disisi baratnya.
Kawasan dimana Pura Luhur Candi Narmada berada, lebih dikenal dengan sebutan “Tanah Kilap”.
Pemangku Pura Luhur Candi Narmada, IB Made Sudana menjelaskan, areal berdirinya Pura Luhur Candi Narmada, pada mulanya berupa rawa-rawa dan diantaranya terdapat batu karang yang agak tinggi disebelah timur tukad Badung.
Tepatnya di atas batu karang inilah Parahyangan Ratu Bhatari Nihang Sakti sekarang berdiri megah dengan segala prabhawa-Nya.
Dari berbagai cerita yang diyakini secara turun temurun, di sekitar kawasan yang menjadi stana (tempat) Parahyangan Ratu Bhatari Nihang Cakti.
Dahulunya tempat ini merupakan lalu lintas pelayaran para bendega (nelayan) yang berdomisili di sekitar tempat itu.
Sejarah pura ini tertulis dalam lontar yang ditemukan di Griya Gede Gunung Beau Muncan-Karangasem.
Konon, pada zaman pemerintahan kerajaan Bandana Raja, di pesisir bagian selatan pulau Bali hiduplah seorang Bendega (nelayan) bernama Pan Santeng.
Kesehariannya Pan Santeng bermata pencaharian sebagai nelayan di muara sungai yang menghadap ke laut Selatan Bali.
Pada suatu hari, ketika sedang melaut, ternyata Pan Santeng sama sekali tidak mendapat hasil, dan kejadian tersebut berlangsung selama tiga hari berturut-turut.
Akhirnya pada hari ketiga, akhirnya Pan Santeng mengucapkan janji masesangi (kaul), jika mendapatkan ikan, maka dia akan menghaturkan pekelem dan doanya pun terkabul.
"Nah dari kaulnya itulah Pan Santeng membangun palinggih di atas batu karang dan setiap hari dengan tekun sang Bendega menghaturkan Bhakti di pelinggih tersebut, seiring dengan semakin banyaknya hasil tangkapan yang diperolehnya," imbuh Sudana.
Ditambahkan Sudana, selanjutnya Pan Santeng mendapat pawisik jika pelinggih tersebut adalah tempat stana Ida Brahma Putri dari Patni Keniten yang bernama Ida Ayu Ngurah Saraswati Swabhawa.
Pura Luhur Candi Narmada selama berabad-abad tetap berupa pelinggih batu sederhana di atas karang.
Hingga akhirnya pada tahun 1958 ada seorang ibu dari Kuta menerima pewisik untuk membangun sanggar agung di kawasan pelinggih Ratu Nihang Sakti.
Kemudian sanggar agung dibangun, dan lambat laun pelinggih tersebut semakin banyak dikunjungi masyarakat dari seluruh Kota Denpasar maupun dari luar Denpasar.
Utamanya yang berprofesi sebagai pedagang dan nelayan. Pasalnya, pura ini diyakini tempat untuk memohon anugrah.
Secara perlahan, pembangunan pura Luhur Tanah Kilap semakin berkembang dengan beberapa gedong dan bangunan lainnya mulai dari Bale Kulkul, Palinggih Ratu Gede Bendega, Gelung kuri dan Peletasan.
Ada pula Pelinggih Padmasana, Pelinggih Meru dan Negara Segara. Kemudian Pelinggih Berada Rambut Sedana, Pelinggih Penglurah, Pelinggih Bhatara Wisnu, Pelinggih Ratu Bagus, Pelinggih Jineng, Pelinggih Bhatari Nihang Sakti, Gedong Simpen dan Telaga Waja serta Bale Peselang.
Pelinggih tersebut berada di utama Mandala Pura Luhur Tanah Kilap. Sedangkan di areal palemahan, terdapat dua pelinggih lain yakni Pelinggih Persimpangan Bhatara Dalem Peed yang terletak di sebelah timur dan Pura Taman dan Tapa Gni yang terletak di sebelah Barat. (dik)
Editor : I Putu Mardika