Bendesa Adat Dukuh Penaban, I Nengah Suarya menjelaskan gerakan Tari Baris Cang Long Leng pada saat menerima pemendak adalah kaki kanan berada di depan dan kaki kiri berada di belakang. Kemudian tangan kanan memegang tamiang yang diletakkan di depan dada.
“Sedangkan tangan kiri diayun ke belakang, posisi badan agak dibungkukkan kemudian kaki dihentakan sebanyak tiga kali lalu dilanjutkan dengan bersorak iiiiiiiih..uuuuuuuh........,” kata Nengah Suarya.
Sorakan itu mengandung makna tertentu. Sorakan Iiih, berarti memanggil Sang Bhuta Kala untuk menerima suguhan yang disajikan seperti segehan, toya anyar, kelungah, tuak, arak, dan berem.
Kemudian sorakan Uuuuh, berarti meminta kepada Sang Bhuta Kala segera meninggalkan tempat itu setelah menerima suguhan dan tidak mengganggu jalannya upacara.
Setelah para penari pemendak selesai menyuguhkan upakara pemendak keenam penari menuju jeroan purauntuk melanjutkan tariannya.
Penari menari dengan memutar tamiang, menghadap ke utara tiga kali pukulan gong dan menghadap ke selatan tiga kali pukulan gong.
Setelah menghadap ke utara penari berjongkok menghunus keris, selanjutnya mereka menari seperti keadaan sedang berperang.
Menari dengan menggunakan keris yang diputar-putar menhadap ke utara tiga kali pukulan gong dan menghadap ke selatan tiga kali pukulan gong disertai juga dengan sorakan iiiiiiiiih........ uuuuuuuh.
Setelah itu para penari menyarungkan kembali kerisnya. Fase yang terakhir penari kembali dengan gerakan yang pertama dengan gerakan kaki mendengkleng bergantian dan tangan juga diangkat secara bergantian.
Bila kaki kanan yang diangkat, tangan kanan yang memegang tamiang diayun kedepan dan diangkat ke atas, tangan kiri di ayun ke belakang.
Selanjutnya bila kaki kiri yang diangkat, tangan kiri diayun kedepan atas sedangkan tangan kanan yang memegang tamiang ditekuk sehingga tamiang tepat berada di depan dada kiri penari.
“Tarian berakhir setelah semua penari bersorak iiiiiiiiih....... uuuuuh sebagai penutup tarian,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika