Menurut pengempon Pura Paluang, Jro Mangku Gurun Muli menjelaskan wajib melukat tujuannya agar penari dan pragina dapat menjiwai sosok dari seorang Prabhu/Raja, Patih, Cerake Subake, dan Demang Temenggung yang sesuai dengan karakter dari para tokoh tersebut.
“Para Pregina diharuskan untuk mebersih/melukat (ritual pembersihan diri). Tujuannya untuk menyucikan diri,” kata Jro Mangku Gurun Muli.
Sebelum melakukan tarian Demang Temenggung ada sejumlah sarana yang dipersembahkan. Seperti banten Sorohan, Segehan, dan Segehan Agung.
Banten-banten tersebut digunakan dalam Tari Demang Temenggung dimaknai sebagai harapan dari masyarakat untuk memohon kelancaran dalam pementasan Tari Demang Temenggung agar terbebas dari gangguan-gangguan bhutakala.
Sedangkan Lakon diangkat saat pementasan Tari Demang dimulai ketika seorang Prabhu memerintahkan parekan atau rakyatnya untuk pergi mencari beboron yang akan digunakan untuk sarana perlengkapan upacara yadnya.
Dalam ceritanya, para parekan dari Prabhu tersebut tidak berani untuk pergi sendiri tanpa ditemani oleh Prabhu, karena hutan atau tempat yang akan ditujunya merupakan alas bhuana cale (hutan besar) yang di dalamnya masih terdapat banyak hewas buas.
Sehingga parekan tersebut membutuhkan perlindungan dari seorang Prabhu agar dapat melindungi mereka dari marabahaya.
“Cerita dari Tari Demang Temenggung tersebut mengajarkan masyarakat bahwa, setiap pelaksanaan upacara yadnya diperlukannya sebuah pengorbanan dalam kegiatannya baik itu berupa korban suci dari macam-macam hewan yang akan digunakan sebagai sarana upakara maupun pengorbanan tenaga atau energi yang dilakukan oleh para pengayah (pekerja tanpa pamrih) demi terlaksananya kegiatan dari upacara yadnya tersebut,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika