Uniknya, secara turun temurun masyarakat Cempaga menggunakan sumber mata air tertentu di kawasan desa untuk dijadikan tirta.
Kelian Adat Cempaga, Putu Karya Darma menyebutkan di Desa Cempaga terdapat dua sumber mata air yang sangat erat kaitannya dengan sistem keagamaan masyarakatnya.
Kedua mata air dimaksud adalah mata air di Pura Buangga dan mata air di Kayehan Desa.
Air yang ada di Kayehan Desa untuk upacara Manusa Yadnya sedangkan air di Pura Buangga ini digunakan untuk kepentingan upacara Dewa Yadnya.
Dengan kata lain bahwa untuk kegiatan upacara Dewa Yadnya maka penduduk memohon tirta di Pura Buangga.
“Kedua mata air ini sangat vital dalam mensukseskan ritual yang dilaksanakan. Karena dibutuhkan sebagai tirta,” kata Karya Darma.
Ia menambahkan, dalam kegiatan-kegiatan ritual, betatapun besarnya upacara Muayon dan Sabha Kuningan, maka tetap membutuhkan sumber mata air tersebut.
Masyarakat Cempaga tetap mempertahankan tradisinya dengan menggunakan tirta dari mata air yang ada di Pura Buangga untuk upacara Dewa Yadnya.
Meski demikian, ada juga beberapa dari masyarakat yang memohon tirta Gria bila melaksanakan upacara Dewa Yadnya pada sanggah dadianya.
Namun, Pamuput upacaranya tetap dilakukan oleh Jero Mangku Balian Desa.
Sedangkan untuk kepentingan Manusa Yadnya sumber mata air yang digunakan sebagai tempat untuk mohon tirta pamuput (tirta atan air suci untuk menyelesaikan upacara Manusa Yadnya) adalah Kayehan Desa.
Kayehan Desa ini terletak di sebelah barat pusat Desa Cempaga.“Maka dari itu, vital sekali keberadaan mata Pura Buangga dan Kayehan Desa,” singkatnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika