Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Tradisi Melasti Mendak Sabeh di Pecatu Bertujuan Memohon Hujan, Dilakukan Jelang Bercocok Tanam

I Putu Mardika • Jumat, 12 April 2024 | 21:57 WIB

 

Tradisi Melasti Mendak Sabeh (hujan) di Desa Adat Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Badung
Tradisi Melasti Mendak Sabeh (hujan) di Desa Adat Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Badung
JEMBRANA EXPRESS-Sebagai kawasan yang gersang, Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Badung acapkali kesulitan turun hujan. Tak pelak, petani di kawasan ini harus berjuang keras untuk bercocok tanam.

Namun, ada tradisi Melasti Mendak Hujan di desa ini yang dilaksanakan jelang masa bercocok tanam untuk memohon hujan dan memberikan kesuburan.

Bendesa Adat Pecatu, Made Sumerta menyebutkan jika Tradisi Melasti Mendak Hujan tidak bisa dilepaskan dari masyarakat Desa Pecatu yang sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani kering ataupun petani tegalan.

Para petani di Desa Pecatu sangat bergantung pada alam untuk memperoleh kesuburan dari Dewa Wisnu. Salah satunya melalui Tradisi Melasti Mendak Sabeh (hujan) yang dilaksanakan setahun sekali.

Dikatakan Sumerta, tradisi melasti mendak hujan sesuai namanya adalah memohon hujan saat musim kemarau, sehingga petani di wilayah Pecatu dapat melakukan cocok tanam di areal tegalan.

Sebelum melasti dilaksanakan, masyarakat harus datang ke Pura Desa Pecatu. Sebelum Melakukan perjalanan kepantai masyarakat menghaturkan sesajen, dan pemangku sebagai pemuput upacara.

Selesai Sembahyang masyarakat Desa Pecatu langsung berjalan kaki dari Pura Desa menuju Pura Segara.

Saat tiba di Pura Segara, masyarakat mengadakan pemendakan atau nedunang Ida Bhatara untuk datang dan menghadiri upacara ritual Melasti Mendak Hujan. Adapun banten yang harus di aturkan yaitu Caru atau sesajen.

Prosesi dilanjutkan dengan persembahyangan di Pura Segara untuk nedunang Ida bhatara/ bhatari yang berstana di Pura Segara.

Tujuannya untuk meminta petunjuk apa kekurangan di alam nyata dan meminta atau mendak hujan agar masyarakat pecatu bisa segera bercocok tanam.

“Pada saat tapakan duduk dengan tubuh yang siap menerima pawisik, permaas memberikan petunjuk tentang jalannnya upacara Melasti Mendak Hujan. Saat mereraosan juga diiringi oleh kidung dan juga gamelan yang ada di Desa Pecatu,” paparnya.

Ia menambahkan, saat Ida Bhatara dan Bhatari tedun, maka harus semuanya juga tedun. Sebab, jika salah satu tidak tedun akan dilakuan lagi pemendakan supaya sesuanan datang dan hadir sehingga semua Ida Bhatara dan Bhatari turun.

“Maka alunan Gamelan akan menjadi semakin semangat saat Beliau memberikan suatu kekuatan yang bersifat magis. Maka akan dilaksanakan atau menghaturkan Pesucian,” imbuhnya.

Prosesi selanjutnya adalah krama Desa Pecatu mengaturkan Canang Tampel/ daun sirih (base) setelah selesai menghaturkan canang tample/ daun sirih ini dipersembahkan oleh warga Desa Pecatu.

Kemudian pembawa acara atau prajuru Desa Pecatu melaksanakan persembahyangan dengan menghaturkan arak dan Berem serta memberikan arahaan untuk acara selanjutnya setelah selesai dari Pura Segara.

Setelah memohon dan memedak Ida Sang Hyang Widhi maka acara selanjutnya menghaturkan Sayut Pegoyan dan soda Agung guna mendatangkan roh leluhur mereka yang sudah menjadi Dewata, untuk ikut menghadiri perayaan upacara Melasti Mendak Hujan.

“Melasti Mendak Hujan akan berakhir para pemangku Desa dan juga mangku dadia mengaturkan segehaan/ caron yang diserta dengan mengucapkan mantra segehaan,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Desa Pecatu #petani #hujan #Kuta Selatan #melasti #ritual #gersang #badung #mendak #Pura Segara