Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Ritual Melasti Mendak Hujan di Pecatu: Ada Tarian Kincang-Kincung hingga Ngurrek

I Putu Mardika • Jumat, 12 April 2024 | 22:17 WIB

Tradisi Melasti Mendak Sabeh (hujan) di Desa Adat Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Badung saat prosesi ngunying
Tradisi Melasti Mendak Sabeh (hujan) di Desa Adat Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Badung saat prosesi ngunying
JEMBRANA EXPRESS-Prosesi Melasti Mendak Hujan di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Badung tidak akan lengkap tanpa pementasan Tari Kincang-Kincung.

Tarian Kincang Kincung akan dipentaskan oleh Jro Tapakan selesai pemangku menghaturkan segehaan.

Tarian kincang-kincung merupakan tarian sakral dalam tradisi melasti mendak hujan yang di persembahkan kepada Ida Bhatara yang sudah menghadiri tradisi melasti ini.

Bendesa Adat Pecatu, Made Sumerta menjelaskan, Tarian kincang-kincung juga sering disebut sebagai tarian kegembiraan, karena acara sudah berjalan dengan baik.

Usai menarikan tarian Kincang Kincung/tari tumbak akan dilanjutkan dengan mebiasa atau ngurak/ngurek dengan menggunakan keris

Keris yang digunakan oleh para penari yang kesurupan ngurek memiliki kekuatan magis.

Tarian ngurek dalam tradisi Melasti Mendak Hujan sebagai bukti bahwa kemahakuasanNya Tuhan tinggi yang mampu memberikan kesejahteraan warga Desa Pecatu.

Tradisi ngurek ini sebagai wujud syukur (kegembiraan) masyarakat desa pecatu. Ratusan warga Desa Adat Pecatu akan memadati area lokasi yang digunakan untuk prosesi Paruman Nunas Baos.

“Uniknya pada tradisi ini juga terdapat tradisi ngunying (ngurek) karena pengiring kerahuan. Sehingga orang yang mengalami ketedunan (kerasukan) secara tidak sadar akan menusukkan keris ke tubuhnya tanpa ada sedikit pun luka,” paparnya.

Usai prosesi ngurek tuntas, maka akan dilanjutkan dengan acara penutupan atau penglebaran. Para sutri/ permaas serta tapakan diberikan banten sajeng pengelebar.

Menariknya, dalam pelaksanaan Melasti Mendak Sabeh acapkali dilaksanakan aci tabuh rah yang diaturkan di Pura Dalem, perempatan catus pata, dan perempatan Durga.

Aci tabuh rah ini dilaksanakan sampai akhirnya masyarakat Desa Adat Pecatu melaksanakan kembali Melasti Kasanga. 

Bila upacara Melasti Mendak Sabeh gagal artinya tidak turun hujan dengan ciri-cirinya cuaca panas yang cukup lama, maka akan melakukan prosesi atau upacara lainnya yang disebut ngetis

“Nanti Prajuru itu wajib ngetis di Pura Dalem Selonding. Kami akan memohon secara khusyuk di sana. Tetapi semoga dari permohonan kami pada upacara ini, besok sudah mulai turun hujan dan biasanya terkabulkan,” tutupnya.

Editor : I Putu Mardika
#ngurek #Desa Pecatu #hujan #Kuta Selatan #melasti #badung #kincang kincung #mendak #keris