Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Saka Roras Rumah Adat Tigawasa Penyangga Berjumlah 12, Ada Ruang Sakral  

I Putu Mardika • Sabtu, 13 April 2024 | 23:16 WIB

 

Rumah Adat Desa Tigawasa Kecamatan Banjar, Buleleng yang disebut Sakaroras
Rumah Adat Desa Tigawasa Kecamatan Banjar, Buleleng yang disebut Sakaroras
JEMBRANA EXPRESS-Desa Adat Tigawasa, Kecamatan Banjar hingga kini masih melestarikan rumah adat Sakaroras. Rumah Sakaroras mengandung makna saka berarti tiang roras atau duabelas.

Uniknya, rumah adat ini tak hanya difungsikan sebagai tempat tinggal, namun juga berfungsi sebagai tempat melaksanakan aktifitas ritual.

Kelian adat Desa Tigawasa, Made Sudarmayasa mengatakan sesuai secara struktur, rumah adat ini memiliki 12 buah tiang kayu sebagai penyangga utama struktur bangunan.

Rumah ini memiliki bentuk segiempat yang sederhana dan bentuk atap limasan.

Umumnya, fungsi ruang yang terdapat pada rumah adat menciptakan suatu tatanan ruang dalam. Dimana sebagai tempat beristirahat terdapat dua buah Bale (tempat tidur) yang berukuran sama dan terbuat dari kayu.

Kayu struktur dari Bale ini adalah merupakan bagian dari struktur bangunan.

Satu bale difungsikan untuk tempat tidur orang tua yang memiliki posisi di sebelah kanan pintu masuk (dekat dengan Paon) dan satunya lagi berfungsi untuk tempat tidur anak yang berposisi di sebelah kiri pintu masuk.

Kemudian di dalam rumah juga terdapat paon (dapur) sebagai tempat memasak dan menyimpan perlengkapan serta persediaan makanan.

Paon berada tepat di sisi kanan pintu masuk. Terdapat area yang disebut dengan Gentong sebagai tempat menyimpan peralatan dapur dan bahan makanan.

“Kalau tempat untuk bercengkrama dengan sesama anggota keluarga biasanya di dalam disediakan tempat menerima tamu yang posisinya berada diseberang Paon dan bersebelahan dengan Bale tempat tidur anak,” ujarnya.

Selanjutnya untuk tempat pemujaan leluhur yang merupakan sebuah meja yang terbuat dari tanah polpolan dan berada diantara dua buah bale yang ada pada bangunan adat ini.

Terdapat pula tempat pemujaan yang digantung diatas Bale tempat tidur orang tua yang disebut dengan Pelangkiran yang dibuat dari bambu.

“Tempat pemujaan leluhur ini berada diluar bangunan tepatnya di bagian belakang bangunan, dibuatkan sebuah tempat pemujaan leluhur yang umumnya terbuat dari material berbahan bambu,” imbuhnya.

Ada pula tempat untuk menerima tamu berada di depan rumah yang dsebut dengan Ampik. Ia menambahkan, tidak semua rumah memiliki Ampik. Hanya rumah adat Sakaroras yang tertutup yang memiliki Ampik.

Di dalam rumah sakaroras juga dijadikan sarana untuk penyimpanan padi dan hasil bumi. Untuk mewadahi penyimpanan ini terdapat bangunan yang berada tepat di depan rumah yang bernama Jineng (lumbung) yang dimiliki oleh semua masyarakat di masa lampau.

“Namun sekarang hanya hanya beberapa masyarakat saja yang memiliki Jineng karena sudah tidak lagi berprofesi sebagai petani,” sebutnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#sakaroras #Banjar #tigawasa #rumah adat